PERSAGI Siapkan Lulusan Ahli Gizi untuk Penuhi Kebutuhan SPPG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah. (Ilustrasi)
Sumber :
  • VoxPop.co.id/M Ali Wafa

Jakarta, VoxPop – Dalam rangka mendukung kelancaran program Makan Bergizi Gratis (MBG), Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) mengambil langkah strategis dengan mempersiapkan lulusan ahli gizi yang kompeten dan siap berkontribusi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah. Upaya ini diharapkan dapat memastikan setiap SPPG diisi oleh tenaga profesional yang mampu menjalankan peran krusial dalam penyelenggaraan makanan yang aman dan bergizi.

img_title DPR Ingin Putusan MK soal Anggaran MBG Berlaku Tahun 2027

Menyadari masih adanya kesenjangan jumlah tenaga ahli gizi di sejumlah SPPG, PERSAGI diketahui telah menjalin nota kesepahaman (MoU) dengan Badan Gizi Nasional (BGN) pada 11 November 2025, serta menggandeng Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Gizi dan Asosiasi Institusi Pendidikan Vokasi Gizi.

“Bagaimanapun Persagi mendukung MBG karena kita tahu dampaknya tanpa ahli gizi akan terjadi hal yang tidak kita inginkan. Kami mendorong agar mahasiswa gizi, baik dari program vokasi (D3-D4) maupun sarjana (S1/Profesi), dapat melakukan magang di SPPG setempat. Bahkan kami mengusulkan peningkatan bobot SKS magang dari 1-2 menjadi 4 SKS,” kata Sekjen PERSAGI, Prof. Ir. Trina Astuti, MPS.

img_title BGN Hentikan Sementara SPPG Karangturi usai 707 Siswa dan Guru Diduga Keracunan MBG di Semarang

Melalui program magang ini, mahasiswa tidak hanya mendapat pengalaman praktis, tetapi juga diharapkan termotivasi untuk berkarir di SPPG setelah lulus. Dengan adanya SPPG hingga ke kampung-kampung terpencil, lulusan ahli gizi memiliki peluang kerja yang luas di berbagai daerah.

Sementara menunggu ketersediaan ahli gizi yang lebih banyak lagi, PERSAGI mengusulkan solusi jangka pendek kepada SPPG yang sudah beroperasi. Saat ini pendampingan oleh tenaga gizi yang ada di Puskesmas atau Dinas Kesehatan setempat bisa dilakukan. Tenaga ini dapat membantu mengawasi proses krusial di SPPG, seperti penerimaan bahan pangan dan pendampingan saat pengolahan makanan.

img_title Kepala BGN Zero Tolerance Terhadap Kasus Keracunan, Korupsi hingga Titip Menitip Program MBG

“Kita tidak bisa menghentikan program hanya karena belum ada ahli gizi. Program harus berjalan. Karena itu, kita bisa lakukan pendampingan atau pelatihan bagi staf yang ada,” tegas Prof. Trina.

Dengan kolaborasi antara PERSAGI, Pemerintah, dan institusi pendidikan, diharapkan kebutuhan ahli gizi di SPPG dapat terpenuhi secara bertahap. Targetnya, pada Maret 2026, sudah ada lulusan yang siap melamar dan berkontribusi di SPPG terdekat.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut