Formappi Sebut Peran DPRD Sangat Penting dalam Pembangunan di Manggarai, Ini Alasannya

Peneliti Formappi, Lucius Karus (kanan)
Sumber :
  • Dok. Istimewa

Jakarta, VoxPop – Tokoh Manggarai yang juga merupakan peneliti senior Forum Masyarakat Pemantau Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus menyoroti peran kritis DPRD dalam rangkaian proses pembangunan di Manggarai Raya (Manggarai Timur, Manggarai dan Manggarai Barat), Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurut Lucius, peran kritis DPRD juga berkontribusi pada efek pembangunan di Manggarai belum menunjukkan tren positif.

img_title DPRD Pemprov Jambi Kunjungi BPAD DKI Jakarta Terkait Pengelolaan Aset

"Salah satu persoalan pembangunan di daerah termasuk Manggarai Raya adalah mandulnya peran kritis DPRD, yang seharusnya menjadi kontrol pemerintah atau eksekutif dalam proses pembangunan. Karena itu, tidak heran, kita menyaksikan sepinya suara-suara kritis DPRD terhadap masalah pembangunan di Manggarai," ujar Lucius Karus dalam sebuah diskusi di Jakarta, dikutip Minggu, 7 Desember 2025.

Diskusi yang digelar Teras Literasi Nusa Tenggara Timur, dihadiri juga oleh sejumlah narasumber, seperti Analis Politik Senior Boni Hargens; Ahli Pembangunan dari Cornell University Timoty Ravis; dan Direktur Eksekutif Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) Herman Suparman.

img_title Usai Jadi Tersangka Pengeroyokan Warga, Anggota DPRD Bekasi Kini Mendekam di Lapas Cikarang

Lucius menyadari bahwa minimnya peran kritis DPRD juga disebabkan oleh desain sistem pemerintahan daerah yang tidak menempatkan secara jelas posisi DPRD, apakah sebagai wakil rakyat atau sebagai bagian dari eksekutif. Menurut dia, desain pemerintahan seperti itu tidak memungkinkan DPRD untuk menjadi pengontrol kepala daerah.

"DPRD yang seharusnya menjadi representasi rakyat, oleh sistem, dibikin mandul sejak dini. Ini misalnya terlihat Dalam posisi DPRD yang dibikin 'tak jelas' antara menjalankan fungsi representasi dan eksekutif. Maka yang terjadi adalah tumpang tindih peran, yakni DPRD sekaligus menjadi bagian dari eksekutif. Hilangnya fungsi kontrol DPRD menjadikan mereka sebagai alat kekuasaan kepala daerah," jelas dia.

img_title Program Listrik Desa Dinilai Perkuat Pemerataan Pembangunan Nasional

Fatalnya lagi, kata Lucius, politik transaksional menjadi pilihan kepala daerah dan DPRD sehingga mereka fokus pada pembagian jatah proyek di daerah agar semuanya bisa sama-sama nikmat. Konsekuensi lanjutan, kata Lucius, kepala daerah dan DPRD termasuk di Manggarai, sama-sama saling menjaga mengamankan proyek-proyek dalam proses pembangunan, bukan untuk kepentingan umum, tetapi untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya.

"Hilanglah sudah aspek akuntabilitas pemerintahan. Siapa bertanggungjawab pada siapa menjadi tak jelas. Korupsi lalu menjadi sesuatu yang biasa. Semuanya merata. Semuanya saling melindungi dan menjaga," tandas dia.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut