BKSAP DPR: Peran Diplomasi Parlemen Perkuat Posisi Indonesia di Tengah Gejolak Global

Ketua BKSAP DPR RI, Syahrul Aidi Maazat
Sumber :
  • Istimewa

Jakarta, VoxPop – Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI menegaskan pentingnya diplomasi parlemen sebagai pilar strategis politik luar negeri Indonesia, khususnya dalam menghadapi konflik global, rivalitas kekuatan besar, hingga krisis kemanusiaan yang terus berkembang.

img_title DPR Tegaskan Kenaikan Tukin TNI hingga 90 Persen Tak Ganggu Efisiensi Anggaran, Ini Alasannya

Ketua BKSAP DPR RI, Syahrul Aidi Maazat menjelaskan selain jalur eksekutif, politik luar negeri Indonesia juga dijalankan melalui jalur parlemen. 

Dalam hal ini, BKSAP berperan aktif membangun komunikasi antar-parlemen dunia, memperjuangkan kepentingan nasional, serta mengawal arah kebijakan luar negeri agar selaras dengan aspirasi masyarakat.

img_title Donald Trump Rilis Pernyataan Lengkap soal Klaim Hamas Sepakat Lucuti Senjata, Israel Masih Bungkam

“Diplomasi parlemen menjadi instrumen penting untuk memastikan kepentingan Indonesia tetap terjaga di tengah dinamika global yang semakin kompleks,” kata Syahrul melalui keterangan tertulis pada Jumat, 19 Desember 2025.

Legislator dari Dapil Riau II ini mengatakan dalam refleksi tahun 2025 dan proyeksi 2026, BKSAP secara aktif mengangkat sejumlah isu internasional sebagai studi kasus diplomasi parlemen. 

img_title Anggota DPR Minta Kemenkes Cermati Aturan Kemasan Rokok Polos agar Selaras dengan Regulasi

"Di antaranya konflik Palestina, Sudan, dan Yaman, serta dinamika kawasan Timur Tengah yang melibatkan berbagai aktor regional, termasuk Uni Emirat Arab (UEA)," ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, BKSAP juga menegaskan sikap konsisten Indonesia dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina dan mendorong penyelesaian damai konflik Sudan serta Yaman melalui gencatan senjata, dialog politik, dan mekanisme multilateral. 

"Melalui forum antar-parlemen, Indonesia terus menyuarakan agenda kemanusiaan dan stabilitas kawasan," tegas dia.

Di kawasan Indo-Pasifik, meningkatnya rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok dinilai menjadi tantangan nyata bagi pelaksanaan politik luar negeri bebas aktif. Menurut dia, Indonesia harus tetap membuka ruang kerja sama dengan semua pihak tanpa mengorbankan kemandirian nasional.

“Indonesia tidak boleh menjadi objek tarik-menarik kepentingan. Kita harus menerapkan hedging diplomacy, terbuka bekerja sama, tetapi tidak menjadi alat geopolitik pihak mana pun,” imbuhnya.

Selain isu global, BKSAP menekankan bahwa keberhasilan diplomasi harus memberi manfaat langsung bagi rakyat. Karena itu, perlindungan warga negara Indonesia (WNI) di luar negeri, khususnya pekerja migran, menjadi agenda prioritas politik luar negeri.

"Masih rentannya pekerja migran Indonesia terhadap penipuan, perdagangan manusia, hingga deportasi paksa. Ia mendorong sistem perlindungan WNI yang lebih cepat, modern, dan berbasis perjanjian bilateral yang kuat," ungkapnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut