Kisah Asep Kumala, Pedagang Cilok Mudik Jalan Kaki dari Bandung ke Ciamis
- ANTARA/Rubby Jovan
Penghasilan yang tidak menentu membuatnya kesulitan menyisihkan uang untuk pulang kampung. Lebaran tahun ini pun menjadi momen yang berat. Ia mengaku tidak menerima tunjangan hari raya dalam bentuk uang, melainkan hanya 50 butir cilok dan sebotol sirup.
“THR cuma dikasih cilok sama sirup,” ujarnya.
Dengan kondisi keuangan yang terbatas, Asep memilih berjalan kaki sebagai satu-satunya cara untuk pulang. Baginya, pilihan itu bukan hal yang sepenuhnya baru.
“Kalau ongkosnya pas mah jarang naik bus. Mending jalan kaki, sambil nyetop truk,” katanya.
Perjalanan yang ia tempuh memang tidak sepenuhnya dilakukan dengan berjalan kaki. Ia sesekali mengandalkan tumpangan kendaraan barang yang melintas di jalur tersebut.
Dari Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, ia sempat menaiki bus Damri hingga Bundaran Cibiru. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan menumpang truk hingga Rancaekek, sebelum kembali berjalan kaki menuju arah timur.
Namun, perjalanan tak selalu sesuai rencana. Saat mencoba menumpang truk di kawasan Nagreg, Asep justru terdorong ke arah yang salah. Kendaraan yang ia tumpangi ternyata melaju membelok menuju Kadungora, Kabupaten Garut, bukannya mengantarnya lurus ke tujuan.
“Saya kira ke arah Ciamis, ternyata ke Kadungora. Saya langsung minta turun, terus jalan lagi ke arah Limbangan,” katanya.
Di sepanjang perjalanan, Asep mengandalkan masjid atau emperan toko sebagai tempat beristirahat. Ketika tubuhnya lelah, ia berhenti sejenak, merebahkan badan, lalu kembali melanjutkan langkah kakinya.
“Kalau capek ya istirahat di masjid. Kadang juga di emper toko,” ujarnya.
Ia mengaku pernah merasa tidak nyaman saat beristirahat di tempat umum.
“Ada yang nanya-nanya. Pernah juga pas di emper toko malah disangka yang bukan-bukan,” katanya.
Meski demikian, Asep tetap melangkah. Baginya, perjalanan ini adalah satu-satunya cara untuk pulang ke kampung halaman di tengah keterbatasan yang ia miliki.
Asep, yang lahir pada 1995, telah menjalani berbagai pekerjaan. Sebelum berjualan cilok, ia pernah bekerja sebagai buruh proyek bangunan hingga pekerjaan serabutan lainnya. Ia juga sempat menjadi nelayan di Indramayu sekitar dua tahun lalu.
