Kisah Asep Kumala, Pedagang Cilok Mudik Jalan Kaki dari Bandung ke Ciamis
- ANTARA/Rubby Jovan
“Dulu pernah jadi nelayan, ngejaring di Indramayu,” ujarnya.
Pengalaman hidup yang keras membuatnya terbiasa menghadapi situasi sulit. Bahkan, berjalan jauh bukan hal asing baginya. Ia mengaku sering berjalan kaki untuk mendaki gunung di waktu senggang.
“Saya sering jalan kaki ke gunung, ke Puncak Mega Bandung,” katanya.
Dengan pengalaman tersebut, Asep cukup yakin dapat menempuh perjalanan panjang menuju Ciamis. Ia memperkirakan bisa tiba pada pagi hari jika terus berjalan tanpa henti, meski tetap berharap ada kendaraan yang memberinya tumpangan di perjalanan.
“Kalau jalan terus mungkin sampai jam 9 pagi. Tapi mudah-mudahan ada truk yang ngasih tumpangan,” ujarnya.
Di kampung halamannya di Sindangkasih, keluarga telah menunggu. Perjalanan panjang ini bukan sekadar tradisi mudik tahunan, melainkan momen untuk kembali bertemu orang-orang terdekat setelah dua tahun merantau.
Namun perjalanan pulang ini bukan akhir dari perjuangannya. Setelah Lebaran, Asep berencana kembali merantau, bahkan mempertimbangkan kembali bekerja sebagai nelayan.
“Rencana ke laut lagi, jadi nelayan,” katanya.
Langkah kaki Asep terus menapak, menyusuri jalan yang membentang dari Bandung menuju Ciamis. Di tengah derasnya arus mudik, kisahnya menjadi potret lain tentang perjalanan pulang yang tidak selalu mudah dan nyaman.
Setiap langkah yang ia tempuh menyimpan cerita tentang keterbatasan, keteguhan, dan harapan. Bahwa bagi sebagian orang, mudik bukan sekadar perjalanan, melainkan perjuangan panjang demi bisa kembali ke rumah.
Bagi Asep, rumah itu kini semakin dekat, langkah demi langkah yang menuju pelukan keluarga di hari kemenangan. (Ant)
