Arsari Tambang Bakal Bangun Pusat Riset Timah dan REE di Bangka

Direktur Utama PT Arsari Tambang, Aryo Djojohadikusumo
Sumber :
  • Istimewa

Jakarta, VoxPop – Direktur Utama PT Arsari Tambang, Aryo P. S. Djojohadikusumo mengungkap rencana perusahaan membangun pusat riset timah dan logam tanah jarang (rare earth elements/REE) di Bangka sebagai bagian dari strategi hilirisasi dan penguatan teknologi mineral Indonesia.

img_title Lampaui Target 169 Persen, PT Timah Cetak Laba Bersih Rp 2,71 Triliun di Semester I-2026

Menurut dia, keberadaan pusat riset menjadi kebutuhan mendesak untuk memperkuat daya saing industri timah nasional di tengah meningkatnya kebutuhan teknologi global.

“Bayangin, industri timah Indonesia sudah ada selama 150 tahun dan kita tidak punya pusat riset timah,” kata Aryo dalam presentasinya saat menjadi pembicara dalam forum industri pertambangan dan metalurgi Met Connex 2026 di JCC, Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026. 

img_title TNI AL Gagalkan Penyelundupan Timah Diduga Ilegal di Belitung, 2,5 Ton Biji Timah Disita

Ia mengatakan, Arsari Tambang menargetkan pusat riset tersebut dapat menjadi basis pengembangan teknologi timah dan pengolahan logam tanah jarang yang selama ini masih terbatas di dalam negeri.

Menurut Aryo, rare earth elements merupakan salah satu produk sampingan timah yang memiliki nilai strategis tinggi untuk masa depan industri global, terutama dalam mendukung transisi energi dan teknologi tinggi. 

img_title Riset Terbaru Economist Enterprise Soroti Pentingnya Perawatan Kesehatan Mandiri

Beberapa unsur yang disebutkannya antara lain neodymium (NdPr) dan dysprosium yang dibutuhkan dalam berbagai perangkat teknologi dan industri energi.

“Semoga kita bisa mendapatkan manfaat dari itu. Salah satu hal yang kami lakukan adalah berinvestasi membangun pusat riset timah dan logam tanah jarang di Bangka,” ujarnya.

Aryo menilai Indonesia perlu mulai menguasai teknologi hilir berbasis timah, termasuk pengembangan solder untuk industri semikonduktor yang memerlukan formulasi campuran logam (alloy) dengan standar tinggi.

Menurut dia, pengembangan teknologi tersebut tidak bisa hanya bergantung pada pasar luar negeri, melainkan harus didukung kapasitas riset domestik dan penguatan ekosistem nasional agar inovasi, kolaborasi industri, serta nilai tambah ekonomi tetap berada di Indonesia.

“Kita perlu menguasainya, dan ini harus dimiliki oleh Indonesia, diteliti di Indonesia, dan dibuat di Indonesia,” katanya.

Aryo juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk akademisi, perusahaan swasta, dan perusahaan pelat merah sektor timah, untuk mempercepat pengembangan pusat riset tersebut. Ia menyebut kerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang telah lama bergerak di industri timah dapat menjadi langkah penting membangun ekosistem penelitian mineral nasional.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut