Fadli Zon Soal Pidato 'Londo Ireng' Prabowo: Cuma Bercanda, Kalau Bukan Pengkhianat Tak Perlu Tersinggung
- ANTARA
Jakarta, VoxPop – Menteri Kebudayaan Fadli Zon angkat bicara mengenai pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut istilah "londo ireng". Menurutnya, ucapan tersebut disampaikan sebagai bentuk humor atau ice breaking agar suasana menjadi lebih akrab.
Fadli mengaku telah lama mengenal Prabowo dan menilai Presiden memiliki karakter yang humoris.
"Saya kenal Pak Prabowo sudah sangat lama. Pak Prabowo itu sebenarnya orangnya sangat humoris. Jadi kalau mengatakan seperti itu adalah mendekatkan untuk keakraban, ice breaking, dan lain-lain," kata Fadli di Jakarta, Rabu 5 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, istilah "londo ireng" juga dimaksudkan sebagai pengingat bahwa sejak masa perjuangan kemerdekaan selalu ada individu yang tidak berpihak pada kepentingan bangsa.
Fadli mengatakan, dalam sejarah Indonesia terdapat warga yang memilih bekerja sama dengan penjajah Belanda maupun Jepang demi kepentingan pribadi atau kelompoknya.
"Kalau dulu orang menjadi kolaborator dengan Belanda, dengan penjajah, kemudian menjadi kolaborator dengan Jepang untuk kepentingan dirinya atau kelompoknya. Jadi jangan lupa, pengkhianat itu ada di mana-mana," ujarnya.
Fadli juga menyinggung buku Confessions of an Economic Hit Man karya John Perkins yang mengulas pengaruh kepentingan ekonomi asing terhadap negara lain.
Menurut dia, masyarakat tidak perlu merasa tersinggung dengan pernyataan tersebut apabila tidak merasa termasuk pihak yang dimaksud.
"Jadi jangan lupa jadi pengkhianat itu ada di mana-mana. Jadi menurut saya sih biasa-biasa saja itu. Kalau misalnya bukan pengkhianat enggak usah tersinggung gitu ya kalau menurut saya," katanya.
Ia menilai pesan yang hendak disampaikan Prabowo adalah ajakan menjaga persatuan nasional sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap kepentingan asing yang berpotensi memecah belah bangsa.
"Karena itu juga disampaikan dengan enteng, dengan joke. Tapi untuk mewaspadai bahwa sering kali ada kepentingan-kepentingan di luar yang tidak untuk kepentingan nasional. Yang ingin diingatkan adalah pentingnya persatuan sebagai modal dasar kita membangun bangsa," ujarnya.
Fadli Zon menyatakan setiap presiden memiliki gaya berpidato yang khas sesuai karakter dan latar belakang masing-masing, termasuk Prabowo
"Ada Bung Karno yang juga menggebu-gebu, Pak Harto yang kalem, Pak Habibie yang mungkin lebih kepada teknologi, Gus Dur banyak bercandanya, Bu Mega yang sangat formal, begitu juga dengan Pak SBY dan Pak Jokowi," katanya.
Fadli menilai gaya pidato Prabowo tidak mengalami banyak perubahan sejak lama. Menurutnya, Presiden tetap konsisten menyampaikan gagasan secara konseptual dalam setiap kesempatan.
Ia juga mengatakan penggunaan metafora maupun celetukan dalam pidato Prabowo merupakan bagian dari cara berkomunikasi agar suasana lebih akrab sekaligus memudahkan masyarakat memahami pesan yang ingin disampaikan.
Selain itu, Fadli menyebut Prabowo kerap memanfaatkan pidatonya untuk menjelaskan berbagai kebijakan pemerintah kepada publik agar dipahami sebagai bagian dari upaya memperjuangkan kepentingan nasional.
Pernyataan Prabowo soal 'Londo Ireng'
Istilah "londo ireng" sebelumnya disampaikan Prabowo saat menghadiri puncak peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di JCC Senayan, Jakarta, pada Kamis 23 Juli 2026.
Dalam pidatonya, Prabowo menggunakan istilah tersebut untuk menyebut orang Indonesia yang dinilainya lebih mengabdi kepada kepentingan bangsa lain.
Prabowo menegaskan pemerintah tidak anti terhadap kritik karena Indonesia merupakan negara demokrasi. Namun, ia menilai ada pihak tertentu yang sengaja bekerja demi kepentingan asing sehingga melemahkan bangsanya sendiri.
"Kita negara demokrasi, kita tidak anti kritik tapi kita bukan anak kecil. Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang seneng mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut Londo Ireng. Yang ikut Belanda perang lawan kita. Londo-londo ireng ini. Sampai sekarang masih ada," kata Prabowo.
Prabowo juga mempertanyakan sumber pendanaan pihak-pihak yang menurutnya terus menyampaikan narasi negatif, termasuk ketika kondisi ekonomi sedang menghadapi tantangan dalam penyediaan lapangan kerja.
"Hanya dia sekarang pakai baju lain kan. Wartawan, jurnalis, apa itu pengamat, LSM. LSM harus kita tanya, yang gaji lu siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa? Cari pekerjaan susah kita tahu kan," katanya.
