BGN Ungkap Penyebab Keracunan MBG Paling Banyak Gegara Masak Terlalu Cepat

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono (tengah) di Kantor BGN
Sumber :
  • Yeni Lestari/VoxPop

Jakarta, VoxPop – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menegaskan pihaknya sudah melakukan investigasi terkait kasus keracunan siswa usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia mengaku paling banyak kasus keracunan terjadi karena menu MBG yang terlalu cepat dimasak pada hari sebelumnya.

img_title Sudaryono Copot 137 Kepala SPPG Gegara Korupsi hingga Langgar SOP yang Sebabkan Keracunan

Hal itu diungkapkan Sudaryono saat menjawab pertanyaan awak media terkait kasus keracunan siswa usai menyantap menu MBG di Semarang, Jawa Tengah dan Papua.

"Kami melihat beberapa sebab ada yang SOP-nya dia masaknya kecepetan. Kalau di Papua kita lihat sistem dapurnya, kapan persiapan, kapan dimasak itu ada," kata Sudaryono dalam konferensi pers di kantor Kemenkes RI, Rabu, 5 Agustus 2026.

img_title Mahasiswa Kawal Program MBG dari Desa

Ia menambahkan dapur MBG yang berpotensi menyebabkan keracunan itu mulai memasak pukul 7 atau 8 malam sehari sebelum makanan dibagikan kepada siswa keesokan harinya. Menurutnya, hal itu sudah termasuk pelanggaran kedisiplinan.

"Jadi memang memulai masaknya kecepatan kalau nggak salah setengah 7 atau setengah 8 hari sebelumnya untuk diberi makan di hari berikutnya di jam 11 siang. Jadi itu sudah melanggar," kata Sudaryono.

img_title BGN Naikkan Status Kasus Keracunan MBG Jadi Kejadian Fatal, Kepala SPPG Terancam Dicopot

"Termasuk yang di Semarang juga sama, dia mulai masak jam 9 malam. ini sekarang tinggal bagaimana, ini kan masalah kedisiplinan," sambungnya.

Sebelumnya, Sudaryono menegaskan komitmen untuk menerapkan kebijakan zero tolerance atau nol toleransi terhadap insiden keamanan pangan maupun praktik penyimpangan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pernyataan tersebut disampaikannya usai menjenguk korban dugaan insiden keamanan pangan yang menimpa ratusan siswa SMK Negeri 6 Semarang di sejumlah rumah sakit di Kota Semarang, Sabtu 1 Agustus 2026.

"Saya sebagai Kepala BGN yang baru ini, memastikan zero tolerance terhadap keracunan, tindak pidana korupsi, dan hanky-panky (tindakan menyimpang dan tidak jujur), titip-menitip duit, itu enggak boleh lagi," ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu.

Ia menegaskan, seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wajib mematuhi standar operasional prosedur (SOP) secara ketat guna mencegah terulangnya insiden keamanan pangan dalam pelaksanaan program.

Menurut pria yang akrab dipanggil Mas Dar itu, kepatuhan terhadap SOP dan sistem pengelolaan dapur merupakan kunci untuk menjamin keamanan makanan yang disajikan kepada para penerima manfaat. Ia menekankan, kepala dapur memiliki tanggung jawab penuh dalam memastikan seluruh prosedur dijalankan dengan disiplin.

"Supaya tidak terulang lagi, harus ikuti SOP. Sistem juga diikuti, kemudian komandannya kepala SPPG. Saya paham Anda punya koki, pengawas gizi, atau orang-orang yang bekerja di situ, barangkali mungkin ada satu atau dua yang ngeyel, sehingga harus ada kepemimpinan yang tegas di situ," tuturnya.

Sudaryono mengemukakan, kepala SPPG harus bertindak tegas terhadap petugas yang tidak mematuhi prosedur kebersihan dan keamanan pangan, seperti tidak mencuci tangan, tidak menggunakan sarung tangan, atau tidak mengenakan masker saat mengolah makanan.

Konferensi Pers KSSK

Purbaya: Realisasi Anggaran MBG Capai Rp 101,1 Triliun hingga Akhir Kuartal II-2026

Purbaya melaporkan, realisasi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga akhir kuartal II-2026, mencapai Rp 101,1 triliun bagi 63,13 juta penerima manfaat.

img_title
VoxPop.co.id
4 Agustus 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut