Kisah Saksi Hidup Gemetar Kuburkan Korban Peristiwa 1965
- VoxPop co.id/ Dwi Royanto
VoxPop.co.id – Bagi Mbah Sukar, usia bukanlah hambatan untuk bisa mengingat kejadian puluhan tahun silam. Di usianya yang kini menginjak 83 tahun, ia masih hafal betul tentang asal muasal di hutan Plumbon, Kelurahan Wonosari, Ngaliyan, Semarang.
Siang itu, mata Mbah Sukar berbinar. Ia terlihat menerawang jauh kejadian yang tak mungkin terlupa sepanjang hidupnya. Sukar bercerita kejadian tragis pembantaian massal (G30S) di kawasan hutan Plumbon, tak jauh dari rumahnya.
Pada hari yang sudah tak diingatnya, peristiwa berdarah itu terjadi. Namun pastinya pada 1965. Sukar yang kala itu masih berusia 33 tahun dikagetkan dengan suara mobil meraung-raung melewati depan rumahnya di kampung Plumbon.
"Ada empat mobil datang malam itu. Kondisinya hujan deras di tengah malam. Mobil yang datang pertama jip, lalu dua truk dan jip lagi, warnanya kuning, " kata Sukar saat ditemui VoxPop co.id di kampung Plumbon, Semarang, Kamis, 5 Mei 2016.
Sukar mengatakan masih ingat betul momentum itu. Keempat mobil itu berisi para petugas berseragam lengkap dengan menenteng senapan laras panjang. Sementara penumpang lain berisi puluhan warga sipil yang diikat berjajar serta ditutup matanya.
"Ada 24 orang yang dibawa. Satu perempuan, lainnya laki-laki. Tapi tangannya diikat tali dan digandeng satu sama lain " ujar kakek lima cucu itu.
Sukar yang kala itu adalah seorang warga pengangguran biasa, hanya bisa melihat dari lubang kecil tembok rumah dan tak berani keluar. Apalagi saat itu hujan mengguyur dengan begitu derasnya. Tepat pada pukul 01.00 dinihari, suara tembakan terdengar. Suara itu berasal dari hutan yang merupakan lokasi pembantaian berdarah itu.
"Suaranya nyaring sekali. Kampung sini banyak yang dengar tapi tak berani keluar. Apalagi hujan kan deras banget, " tuturnya.
Sendirian kubur 24 jenazah
Keesokan harinya, Sukar pun dipanggil oleh Radhi (sudah meninggal), pejabat desa setempat yang masih kerabat dengannya. Ia diminta untuk menguburkan puluhan korban yang diduga warga yang berafiliasi di Partai Komunis Indonesia (PKI) itu.
"Jam 08.00 pagi Mbah Radhi bilang begini, Kang, kono nguruk kuburan PKI neng alas. Nggoleko konco. (Sana kuburkan orang PKI di hutan, carilah teman)," ungkap Sukar menirukan perkataan Radhi.
