Polri Menduga Vaksin Palsu Masih Beredar di Pasar

Ilustrasi vaksin
Sumber :
  • Syaefullah/ VoxPop.co.id

VoxPop.co.id – Beredarnya vaksin palsu terungkap setelah Bareskrim Mabes Polri berhasil membongkar pembuatan vaksin bayi palsu di sejumlah wilayah Jakarta, Bekasi, dan Tangerang. Bahkan, dalam perkembangan kasus, jaringan pembuat vaksin palsu ini juga ditemukan di Semarang, Jawa Tengah.

img_title Hoaks, WHO Temukan Vaksin COVID-19 Palsu di Indonesia

Kepolisian saat ini terus mengejar jaringan pembuat vaksin palsu untuk mencegah penggunaannya di masyarakat. Sebab, Polri meyakini hasil produksi jaringan ini masih beredar di tengah masyarakat.

"Kami fokus ke mana peredarannya untuk mencegah dulu, dan sita peredaran yang di luar masih ada. Sejauh ini sudah ada beberapa termasuk di Semarang, itu upaya pencegahan supaya tidak beredar luas," ujar Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri, Kombes Pol. Martinus Sitompul di tvOne, Selasa, 28 Juni 2016.

img_title WHO Temukan Vaksin Palsu COVID-19 di India dan Afrika

Sejauh ini, kata Martinus, sudah ada 15 tersangka yang diduga terlibat pada jaringan pembuat vaksin palsu ini. Dari jumlah itu, 14 di antaranya sudah ditahan, dan seorang lagi menjadi tahanan rumah karena sedang mengandung bayi. "Atas rasa kemanusiaan, karena lagi hamil," katanya.

Menurut dia, penyidik Polri saat ini sudah memiliki data mengenai luas sebaran vaksin palsu berdasarkan keterangan para tersangka. Meski begitu, demi penyidikan perkara ini, data itu belum bisa dipublikasi ke masyarakat.

img_title Lebih 2.500 Warga India Jadi Korban Vaksin COVID-19 Palsu

"Kami sudah data, tapi tidak bisa di-publish. Kami melakukan proses penegakan hukum jangan sampai masyarakat resah," ucap Martinus.

Dari pemeriksaan sementara juga diketahui bahwa vaksin palsu ini berisi cairan infus, yang kemudian dikemas ulang agar menyerupai kemasan vaksin impor yang memiliki nilai jual tinggi.

"Yang dipalsukan umumnya dari luar karena harganya lebih tinggi. Misalnya merek P dengan nama vaksin S, dijualnya Rp800 ribu, mereka jual Rp300 ribu, jauh di bawah harga pasaran," tuturnya.

Pada kesempatan ini, Sekretaris Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia Dr. Piprim Basarah Yanuarso menjelaskan, dengan pemberian dosis vaksin sebesar 0,5 cc, maka vaksin palsu ini tidak memiliki efek samping kepada tubuh anak.

"Kalau isinya cairan infus, katakan dicampur, kalau dosisnya banyak, itu ada reaksi alergi, infeksi, dan merusak ginjal kalau jumlahnya signifikan. Tapi kalau 0,5 cc dalam satu kali sebulan, itu efeknya tidak ada," ujar Piprim.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut