Gelombang Guru Besar Kampus Kritik Jokowi, Rocky Gerung: Istana Tahu Suatu Waktu akan Meledak

Pengamat politik Rocky Gerung
Sumber :
  • Dok. PKS

Jakarta - Gelombang kritik untuk Presiden RI Jokowi disuarakan sivitas akademika sejumlah kampus seperti guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM) jadi perhatian. Kritik lewat petisi itu di antaranya menyoroti pemerintahan Jokowi yang dinilai sudah keluar jalur hingga demokrasi menurun.

img_title Roy Suryo Janji Tak Ambil Uang Ganti Rugi Rp206 Juta Jika Menang Praperadilan, Disumbangkan ke Panti Asuhan

Pengamat politik Rocky Gerung ikut merespons gelombang petisi untuk Jokowi termasuk dari akademisi UGM. Dia juga heran dengan pernyataan Istana melalui Koordinator Staf Khusus Presiden RI, Ari Dwipayana.

Menurut dia, omongan Ari Dwipayana soal orkestrasi narasi politik kepentingan elektoral terkesan menyudutkan gelombang kritik sivitas akademika dari sejumlah kampus.  Padahal, salah satu pihak yang mengkritik adalah guru besar UGM yang notabene Jokowi almamater kampus tersebut.

img_title Gelar Adat Jokowi Terus Bertambah, Ahmad Ali: Rakyat Mengingat Hasil Kerja

"Orkestrasi disiapkan memang untuk membantah gelombang akal sehat yang datang dari kampus itu. Kan dari awal, saya kira detekfif Istana tahu suatu waktu akan meledak juga nih guru-guru besar. Yang justru datang dari kampus Pak Jokowi," kata Rocky dalam YouTube Rocky Gerung Official dikutip pada Minggu malam, 4 Februari 2024.

Presiden RI Joko Widodo atau Jokowi.

Photo :
  • Akun X @jokowi
img_title Roy Suryo Ajukan Praperadilan Keempat Kalinya, Minta Status Cekal Dibatalkan

Dia pun menyinggung UGM yang tak berikan sanksi terhadap mahasiswa pendemo serta memasang baliho Jokowi sebagai alumnus paling memalukan. Ia menduga keberanian mahasiswa itu karena disponsori diam-diam oleh guru besar. "Dari situ, kita tahu sebetulnya itu disponsori diam-diam juga oleh guru besar itu," ujar Rocky.

Baca Juga: Respon Singkat Jokowi Munculnya Petisi Bulaksumur UGM dan UII Mengkritik Dirinya

Begitu juga menurutnya dengan Universitas Indonesia (UI) yang rektornya dinilai dekat Jokowi. Tapi, kata dia, seorang rektor tak bisa melarang guru besar untuk melontarkan kritik.

"Tapi, dia gak mungkin melarang sejarah UI yang menuntut supaya kampus itu jadi kampus perjuangan. Demikian juga kampus-kampus yang lain," sebutnya.

Bagi Rocky, pernyataan Ari Dwiyapana soal kritik kampus sebagai narasi orkestrasi adalah konyol. Ia singgung status Ari yang juga almamater UGM. Menurut dia, UGM sebagai universitas rakyat akan tiba waktunya menyampaikan kritikan itu.

"Jadi, konyol juga Ari Dwipayana itu tidak mengukur kultur universitasnya sendiri ya. Kan, itu seperti jadi pembutaan kebudayaan itu," ujar Rocky.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut