Ibas Yudhoyono Bicara Potensi AI Bantu Anak Muda Capai Generasi Emas 2045
- Istimewa
Jakarta, VoxPop - Wakil Ketua MPR RI dari Partai Demokrat, Edhie Baskoro Yudhoyono menjelaskan kalau bangsa Indonesia harus dapat memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan, artificial intelligence atau AI, untuk menciptakan generasi emas yang cerdas serta berakar nilai kebangsaan.
Politisi yang lebih akrab disapa Ibas itu menegaskan, bahwa AI seharusnya menjadi mitra, bukan pengganti manusia, dalam upaya bersama membangun masa depan pendidikan yang lebih baik.
Selain itu, menurutnya teknologi kecerdasan buatan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk di dunia pendidikan.
“Generasi muda kita, baik generasi z maupun generasi alpha sudah sangat akrab dengan teknologi. AI membawa banyak peluang, potensi, namun juga perlu waspada terhadap tantangan yang ditimbulkan," ujar Ibas dalam keterangannya, Senin, 16 Desember 2024.
Menurut Ibas, setidaknya ada tiga potensi AI dalam dunia pendidikan, di antaranya untuk personalisasi pembelajaran, efisiensi operasional sekolah dan kampus, serta peningkatan aksesibilitas pendidikan.
Meskipun demikian, ia juga memberikan catatan penting bahwa AI juga bisa memiliki dampak negatif. Seperti ketergantungan teknologi dan risiko pengabaian nilai-nilai kebangsaan dan manusiawi.
Di lain sisi, Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI ini melihat, adanya peluang yang dapat dimanfaatkan dalam penggunaan AI untuk dunia pendidikan. Menurutnya, AI dapat membantu mengoptimalkan hak atas pendidikan untuk semua dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
“Kita tidak ingin AI justru membanjiri kehidupan tanpa didasari dari nilai kebangsaan kita. Tapi kita juga bisa memberikan dukungan agar AI membuat keterampilan kita menjadi lebih baik, lebih maju di abad ke-21, sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.” ungkapnya.
Selain itu, menurut Ibas AI juga bisa membantu guru dan tenaga pendidik dalam evaluasi pembelajaran yang mendukung persatuan dan kesatuan.
Meskipun memiliki peluang yang cukup baik, namun Ibas menilai implementasi AI dalam sistem pendidikan di Indonesia juga masih memiliki beberapa tantangan. Kurangnya infrastruktur teknologi di daerah terpencil yang bertentangan dengan semangat NKRI menjadi salah satu tantangan utama.
“Masih juga dirasakan adanya ketimpangan akses antara sekolah maju dan sekolah-sekolah yang ada di daerah atau yang tertinggal. Tidak sesuai dengan asas keadilan dalam UUD 1945. Kita harus terus berbenah, terus membangun dan menyiapkan piranti dan perangkat, baik hard (keras) dan soft nya (lunaknya),” terang Ibas.
