Arcandra Tahar Ungkap Polemik AS dan IEA soal Rekomendasi Transisi Energi

[dok. Instagram @Arcandra.Tahar]
Sumber :
  • VoxPop.co.id/Mohammad Yudha Prasetya

Jakarta – Mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar mengatakan, pada Maret 2024 lalu Komite Bidang Energi dan Sumber Daya Alam US Senate dan Komite Bidang Energi dan Perdagangan US Congress, telah melayangkan surat teguran kepada Direktur Eksekutif International Energi Agency (IEA).

img_title Harga Emas Hari Ini 3 Agustus 2026: Antam Kinclong, Produk Global Bersinar Terdorong Ini

Hal ini dinilai tak lazim sebagaimana biasanya, karena kedekatan IEA dan AS selama ini memungkinkan AS memberikan nasehat kepada IEA, tanpa harus menulis surat secara terbuka seperti kali ini. Karenanya, muncul pertanyaan apakah ada hal yang sangat penting yang bisa membuat kebijakan energi AS terganggu?

Arcandra pun kemudian menjelaskan latar belakang berdirinya IEA di era krisis energi AS tahun 1973-1974, akibat embargo minyak oleh negara-negara produsen minyak dunia terutama Arab Saudi. Di mana, negara-negara industri maju yang tergabung dalam Organization for Economic Co-operation and Development (OECD), yang selama ini sangat bergantung akan impor minyak, menjadi ikut terganggu dengan harga minyak yang tinggi ini.

img_title Terminal LPG Tanjung Sekong Jaga Pasokan 40 Persen Kebutuhan LPG Nasional

Untuk menghadapi krisis energi ini, tahun 1974 OECD memprakarsai berdirinya IEA di Paris, dengan mandat utama untuk menjamin ketersedian suplai minyak dunia. Energy security yang berfokus pada minyak pun resmi menjadi misi utama dari IEA.

"Kebijakan-kebijakan dirancang agar krisis energi bisa dicegah sedini mungkin. Kerja sama antar negara juga dintensifkan agar supply dan demand bisa terjaga dengan baik," kata Arcandra dalam unggahan di Instagram pribadinya, Arcandra.Tahar, Rabu, 12 Juni 2024.

img_title Orang AS Ketagihan Tempe, Produk Pangan RI Laris hingga Rp 150 Miliar di New York

Pada tahun 2015, IEA yang sangat fokus pada minyak bumi memperluas dan mengubah strateginya ke energy security beyond oil. Hal ini tentu tidak terlepas dengan ditunjuknya Direktur Eksekutif baru, Fatih Birol yang sangat concern terhadap isu-isu lingkungan. Di bawah kepemimpinan Fatih Birol, maka cepat atau lambat akan terjadi perbedaan dalam menyikapi energy security dan energy transition.

"Karena memang dua hal ini kelihatannya bisa saling mendukung, tapi pada situasi tertentu bisa saling bertentangan. Kenapa bisa?" ujarnya.

Pertamina Dukung Komitmen Transisi Energi Ramah Lingkungan.

Photo :

Secara bebas, kata Arcandra, kita bisa menterjemahkan energy security dengan kemampuan suatu negara dalam memenuhi kebutuhan energinya secara terus menerus dengan harga yang terjangkau. Sementara energy transition adalah suatu masa di mana kebutuhan energi manusia harus beralih dari energi fosil ke energi terbarukan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut