Arcandra Tahar Ungkap Polemik AS dan IEA soal Rekomendasi Transisi Energi
- VoxPop.co.id/Mohammad Yudha Prasetya
Permasalahan muncul apabila kebijakan sebuah negara lebih fokus kepada pemenuhan kebutuhan energi secara terjangkau daripada beralih ke energi terbarukan. "Di sinilah kita bisa membaca secara tidak langsung apa yang menjadi kekhawatiran AS terhadap energy transition ini sehingga keluar surat teguran ke IEA," kata Arcandra.
Dia mengatakan, beberapa hal yang bisa kita pelajari secara tidak langsung dari surat Komite Bidang Energy Senate dan Congress AS ini adalah, pertama, beberapa rekomendasi dan kebijakan yang disarankan oleh IEA, ditengarai tidak lagi berdasarkan energy modelling yang berbasis data-data yang berimbang.
"Keberpihakan IEA kepada isu-isu perubahan iklim dan kurang mempertimbangkan data-data dari segi energi fosil mengakibatkan pembuat kebijakan di banyak negara bisa salah arah dalam implementasi transisi energi," ujarnya.
Kedua, rekomendasi IEA yang menyarankan untuk tidak lagi berinvestasi di oil dan gas, adalah sesuatu yang perlu dikaji ulang. Hal ini tentu tidak sejalan lagi dengan mandat yang diberikan oleh anggota OECD kepada IEA untuk menjamin ketersedian energi terutama minyak. Posisi IEA dalam masa energy transition ini dinilai bisa membahayakan keamanan suplai dari sumber energi fosil.
Ketiga, ketidakpercayaan Fatih Birol terhadap peran oil and gas dalam masa energy transition, berkembang menjadi isu leadership beliau dalam memberikan masukan yang tepat ke pembuat kebijakan di negara anggota IEA. Salah satu contoh akibat dari data-data yang dikeluarkan oleh IEA adalah, dimana The US Department of Energy memutuskan untuk menunda pemberian izin ekspor LNG untuk batas waktu yang tidak ditentukan.
"Untuk jangka pendek, penundaan izin ekspor LNG akan merusak iklim investasi di bidang LNG yang sedang berkembang pesat di AS. Untuk jangka panjang penundaan ini bisa membahayakan ketersedian LNG dimasa datang," ujar Arcandra.
Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar (kanan)
- ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Keempat, prediksi demand minyak dan gas ke depan yang dikeluarkan oleh IAE sangat jauh berbeda dengan organisasi lain seperti BP, ExxonMobil, OPEC dan Energy Economic di Jepang. Menurut IEA, pertumbuhan kebutuhan gas dunia hanya 4 persen dari tahun 2020-2050. Sementara organisasi lain memperkirakan antara 23-47 persen, sehingga perbedaannya sangat jauh.
