Pasar Kerja Lesu, Ini Biang Keroknya
- VoxPop.co.id/M Ali Wafa
Jakarta, VoxPop – Pasar kerja di Inggris kembali menunjukkan tanda-tanda perlambatan yang signifikan. Meskipun jumlah pekerja berusia di atas 65 tahun mencapai angka rekor, data resmi menunjukkan bahwa kesempatan kerja semakin sempit, dengan penurunan jumlah lowongan dan kenaikan tingkat pengangguran.
Hal ini menjadi sorotan utama bagi pemerintah dan pelaku ekonomi yang tengah memantau pemulihan pasar tenaga kerja pasca-pandemi.
Melansir dari Sky News, Jumat, 17 Oktober 2025, Kantor Statistik Nasional (ONS) mencatat, selama periode tiga bulan hingga September 2025, terdapat penurunan sebanyak 9.000 lowongan pekerjaan. Penurunan tersebut menandai periode ke-39 berturut-turut di mana jumlah lowongan mengalami penurunan.
Hal ini menunjukkan tekanan yang terus berlanjut pada pasar tenaga kerja. Tak hanya itu, tingkat pengangguran juga meningkat menjadi 4,8 persen dari sebelumnya 4,7 persen pada bulan sebelumnya. Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh kelompok pekerja muda, meskipun jumlah pekerja lansia tetap tinggi.
Para ekonom sebelumnya memperkirakan bahwa tidak akan ada perubahan signifikan dalam tingkat pengangguran, sehingga angka 4,8 persen menjadi kejutan tersendiri. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak periode tiga bulan hingga Mei 2021, ketika Inggris masih berada di bawah lockdown akibat pandemi COVID-19.
Ilustrasi pengangguran.
- Freepik
ONS pun mengingatkan agar berhati-hati dalam menafsirkan perubahan bulanan pada data pengangguran dan lowongan pekerjaan, mengingat adanya kemungkinan keterbatasan dalam keandalan data.
Perlambatan pasar kerja ini sebagian besar disebabkan oleh meningkatnya biaya tenaga kerja bagi perusahaan. Kontribusi asuransi nasional yang lebih tinggi bagi pemberi kerja dan kenaikan upah minimum membuat biaya mempekerjakan staf menjadi lebih mahal.
Selain itu, pertumbuhan upah tahunan di sektor swasta menurun menjadi 4,4 persen, angka terendah dalam hampir empat tahun. Sebaliknya, pertumbuhan upah di sektor publik justru meningkat menjadi 6 persen, sebagian karena beberapa kenaikan gaji diberikan lebih awal dibandingkan tahun lalu.
Meskipun demikian, upah mingguan rata-rata meningkat lebih tinggi dari perkiraan para ekonom, yaitu sebesar 5 persen, dan direvisi naik dari estimasi bulan sebelumnya sebesar 4,8 persen.
Revisi ini membawa konsekuensi terhadap pensiun negara, yang kemungkinan akan naik sebesar 4,8 persen pada bulan April mendatang. Di bawah sistem triple lock, pensiun naik setiap tahun berdasarkan angka tertinggi antara inflasi pada bulan September, rata-rata upah mingguan (periode Mei–Juli), atau 2,5 persen.
