Shutdown AS Bikin Industri Penerbangan Babak Belur, Rugi Triliunan!
- Reuters
Jakarta, VoxPop – Krisis besar tengah mengguncang dunia penerbangan Amerika Serikat (AS). Penutupan atau shutdown AS yang dimulai sejak awal Oktober, kini menimbulkan kerugian besar bagi industri travel.
Menurut Asosiasi Perjalanan Amerika Serikat, sektor ini telah kehilangan lebih dari US$4 miliar atau setara Rp66,8 triliun hanya dalam waktu sebulan.
Tidak hanya maskapai yang terpukul, jutaan penumpang pun menghadapi kekacauan di bandara akibat pembatalan penerbangan massal dan antrean panjang yang tak berkesudahan.
Kondisi semakin parah setelah Federal Aviation Administration (FAA) mengumumkan pengurangan jumlah penerbangan di wilayah padat lalu lintas udara mulai Jumat, 7 November 2025. Keputusan tersebut diambil karena kekurangan tenaga kerja di lapangan.
Ribuan petugas keamanan bandara (TSA) dan pengatur lalu lintas udara (air traffic controllers) bekerja tanpa gaji sejak shutdown dimulai. Akibatnya, banyak dari mereka yang memilih tidak hadir bekerja.
Dampaknya, antrean penumpang di bandara besar seperti Houston, Atlanta, dan Newark membengkak hingga mencapai empat setengah jam. Terkait itu, Menteri Transportasi AS Sean Duffy mengumumkan bahwa akan ada pengurangan kapasitas penerbangan sebesar 10 persen di 40 bandara utama.
Ilustrasi Ekonomi Amerika Serikat
- Freepik
Dari jumlah itu, termasuk Hartsfield-Jackson Atlanta International, Charlotte Douglas International, Boston Logan International, Baltimore/Washington International, Newark, Washington Dulles, dan Reagan National.
Ia menegaskan, langkah ini diambil untuk menjaga keselamatan dan mengurangi tekanan operasional di tengah krisis kepegawaian yang melanda. Menurut Duffy, pemerintah ingin mencegah situasi yang lebih buruk dan memastikan ruang udara tetap aman bagi seluruh penumpang.
"Ini soal di mana tekanan berada dan bagaimana kita meredakannya," ujarnya sebagaimana dikutip dari Fortune, Jumat.
Masalah utama berasal dari kegagalan Kongres untuk menyetujui anggaran pemerintah tahun 2026. Perdebatan politik antara partai Demokrat dan Republik menyebabkan kebuntuan, sehingga ribuan pekerja pemerintah tidak menerima gaji.
FAA mengungkapkan bahwa setengah dari 30 fasilitas utama mereka mengalami kekurangan staf, sementara hampir 80 persen pengatur lalu lintas udara di kawasan New York tidak masuk kerja. Lembaga itu menegaskan bahwa shutdown harus segera diakhiri agar para pekerja mendapat upah yang layak dan penumpang terhindar dari gangguan perjalanan yang lebih besar.
