Sejarah Kelam Jumat Hitam

Black Friday.
Sumber :

Makna baru Black Friday

img_title Sarwendah Ungkap Kronologi Video CCTV Viral, Sebut Pertengkaran Berawal dari Masalah Ini

Kurang dari tiga dekade kemudian, Black Friday punya makna baru. Para pedagang asal Amerika mulai mempromosikan hari Jumat setelah Thanksgiving (perayaan musim panen di Amerika) sebagai pembuka musim belanja jelang Natal.

Hal ini membuat kota penuh sesak, terutama di Philadelphia, karena di ahir pekan yang sama, pertandingan Football Army vs. Navy diselenggarakan. Orang-orang terjebak macet, situasi jalanan kacau parah hingga polisi menamai Jumat tersebut sebagai Black Friday.

img_title Daftar 3 Tim yang Tersingkir dari Piala AFF 2026, Timnas Vietnam Menyusul Jika Dipecundangi Timnas Indonesia?

Namun, tidak sama halnya dengan para pedagang yang senang dengan lonjakan pengunjung ke kota itu, karena penjualan mereka meningkat tajam.

Mereka pun mulai mempromosikan penawaran khusus dan diskon untuk mendorong penjualan barang jelang natal Natal. Strategi ini berhasil: dari hari "hitam” yang penuh stres dan kekacauan, menjadi hari "emas” bagi para pedagang.

img_title Canter Makin Melar, Kabinnya Bisa Lebih Lega

Pada 1980-an muncul penjelasan baru akan Black Friday dimana para penjual barang mencatat "angka hitam” yang dalam akutansi berarti keuntungan diperoleh (merah berarti defisit).

Meskipun ini adalah rekayasa para ahli marketing, narasinya cocok dengan angka konsumsi yang kembali positif.

Sejak 2000-an, para pedagang online menciptakan hari spesial mereka sendiri yang discbut Cyber Monday yang biasanya jatuh di hari Senin setelah Black Friday.

Awalnya Cyber Monday dimaksudkan untuk meningkatkan penjualan daring yang masih lemah. Namun kini, diskon bahkan sudah dimulai pada hari Minggu sebelum Thanksgiving (Kamis), menjadikan Black Friday fenomena penjualan global.

Gelombang konsumsi juga menjangkau Eropa: menurut Asosiasi Perdagangan Jerman (HDE), orang Jerman menghabiskan sekitar 5,9 miliar Euro (Rp113 triliun) pada Black Friday 2024.

Pada 2020, jumlahnya masih 3,8 miliar Euro (Rp73 triliun). Hampir tidak ada negara lain yang menerima "impor” AS ini dengan begitu antusias.

Sisi gelap konsumsi

Namun, hari penuh diskon ini punya sisi gelap. Organisasi lingkungan menyebutnya sebagai ‘Teror konsumsi', sosiolog menyebut ‘Black Hole of Friday' (Lubang Hitam Jumat) hari yang menyoroti sisi negatif produksi massal barang global.

Produk murah, mentalitas sekali pakai, dan pengiriman cepat memberi tekanan besar pada lingkungan dan rantai pasok.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut