Sejarah Kelam Jumat Hitam
Selama bertahun-tahun, organisasi lingkungan memperingatkan dan mengkritik kenaikan emisi gas rumah kaca, pemborosan sumber daya, dan volume sampah yang sangat tinggi.
Greenpeace menyebut Black Friday sebagai ‘Hari hitam untuk lingkungan', sedangkan Deutsche Umwelthilfe menuntut agar pasar daring bertanggung jawab atas produk impor ilegal dan agar penghancuran massal barang yang dikembalikan dilarang melalui regulasi hukum.
Pada saat yang sama, Black Friday memicu psikologis untuk berbelanja: melalui kelangkaan dengan menyebut ‘Hanya tersisa 2 jam!', tekanan waktu, dan ilusi mendapatkan penawaran sekali seumur hidup.
Studi dari IE Business School menunjukkan bahwa diskon memicu perasaan senang jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang dapat menyebabkan pembelian impulsif dan utang.
Survei majalah Inggris "Sun" terhadap 2.000 orang dewasa menemukan bahwa 40 persen pembeli menyesali pembelian Black Friday mereka, dan 27 persen mengaku membeli barang yang tidak pernah digunakan.
Gerakan alternatif
Sebagai respons terhadap konsumsi berlebihan, muncul gerakan balasan seperti "Buy Nothing Day” atau "Hari Tidak Membeli Apa-Apa” yang jatuh pada tanggal yang sama, atau "Green Friday” atau "Jumat Hijau”, di mana merek-merek berkelanjutan mengajak donasi alih-alih menarik pelanggan dengan diskon.
Semakin banyak pula penjual yang berpartisipasi dalam alternatif ini dari perusahaan mode menyumbangkan pendapatannya ke proyek lingkungan, toko buku yang secara demonstratif menolak diskon, dan beberapa toko daring menutup situs 24 jam mereka.
