Rupiah Menguat Seiring Optimisme Pasar Soal Pemangkasan Suku Bunga The Fed

Ilustrasi uang Rupiah.
Sumber :
  • pixabay.com/WonderfulBali

Jakarta, VoxPop – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup menguat pada perdagangan hari ini.

img_title Rupiah Menguat ke Rp 18.008, Pasar Cermati Indikator Ekonomi dari Inflasi hingga Neraca Dagang

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.668 per Senin, 1 Desember 2025. Posisi rupiah itu melemah 7 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 16.661 pada perdagangan Jumat, 28 November 2025.

Sementara perdagangan di pasar spot pada Selasa, 2 Desember 2025 hingga pukul 09.01 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 16.631 per dolar AS. Posisi itu menguat 32 poin atau 0,19 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.663 per dolar AS.

img_title IHSG Dibuka Menghijau Siap Uji Resistance, Wall Street dan Bursa Asia Kompak Menguat

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS

Photo :
  • VoxPop.co.id/M Ali Wafa

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi menilai, penguatan rupiah pada perdagangan Senin kemarin akibat dipengaruhi oleh pelemahan dolar AS di awal Desember 2025. Dimana, indeks dollar pada Senin kemarin turun 0,18 persen di level 99,28.

img_title Rupiah Berpotensi Sentuh Rp18.300 per Dolar AS Pekan Depan, Pengamat Ungkap Penyebabnya

Menurutnya, faktor lain yang menjadi penggerak adalah peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada pertemuan pekan depan.

"Pasar kini memperkirakan peluang The Fed memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin sebesar 87 persen," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Selasa, 2 Desember 2025.

Ibrahim menjelaskan, kabar kandidat kuat pengganti Ketua The Fed, Jerome Powell, yaitu Kevin Hassett yang dianggap berpandangan dovish, juga turut ikut menekan dolar AS.

Dia mengatakan, pergeseran ekspektasi kebijakan ini membuat indeks dolar mencatat pelemahan mingguan terdalam dalam empat bulan. Selain itu, pelaku pasar turut menanti serangkaian data ekonomi AS seperti PMI Manufaktur ISM, data jasa, hingga klaim pengangguran.

Sementara dari dalam negeri, Ibrahim menilai sentimen positif datang dari surplus perdagangan Indonesia pada Oktober 2025, yang mencapai US$2,39 miliar. Hal ini sekaligus menjadi surplus beruntun selama 66 bulan berturut-turut sejak bulan Mei 2020.

Dia juga menyoroti penguatan PMI manufaktur Indonesia ke level 53,3 pada November 2025, yang juga menunjukkan adanya ekspansi selama empat bulan berturut-turut. Menurutnya, perbaikan permintaan domestik juga turut mendukung stabilitas rupiah.

"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp 16.630 - Rp 16.670," ujarnya.

Plt Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti.

Dampak Positif BI Rate Naik, Destry: Modal Asing US$9 Miliar Masuk RI di Kuartal II-2026

Destry memastikan, kebijakan bank sentral menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 100 basis poin (bps) pada Mei dan Juni 2026 telah membuahkan sejumlah hasil positif

img_title
VoxPop.co.id
3 Agustus 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut