PHK Meluas, Lowongan Kerja Seret! 1,8 Juta Orang Terjebak Jadi Pengangguran Jangka Panjang
- U-Report
“Pengangguran menjadi lebih seperti status quo dibanding posisi sementara bagi pekerja yang kehilangan pekerjaan,” ungkapnya.
Tekanan ini juga dirasakan lintas generasi, seperti Gen Z. Chris Fong, 25 tahun, yang terkena PHK dari startup pada Maret 2025, mendapati proses rekrutmen yang semakin panjang dan selektif.
Bahkan, satu perusahaan mewajibkan delapan tahap wawancara tanpa hasil. “Saya lelah membiarkan perekrut dan perusahaan menilai saya berdasarkan pengalaman sebelumnya,” katanya. “Saya berpikir, saya akan memulai sesuatu sendiri.”
Bagi lulusan internasional seperti Sakshi Patel, 22 tahun, tantangan semakin kompleks. Ia khawatir perubahan kebijakan imigrasi, termasuk pembaruan program visa H1-B dengan biaya aplikasi US$100.000 atau setara Rp1,68 miliar, membuat perusahaan enggan merekrut pekerja yang membutuhkan sponsor visa.
“Pengangguran jangka panjang masih sering dibicarakan sebagai kekurangan pribadi, padahal kenyataannya semakin menjadi masalah struktural,” ujarnya.
Myriam Samake, 27 tahun, telah melamar lebih dari 150 posisi dalam tujuh bulan terakhir. “Sudah sampai pada titik jika saya mendapat tawaran, saya akan menerimanya 100 persen,” katanya.
Andrew Bohan, yang kehilangan pekerjaan paralegal pada Agustus 2024, juga membagikan pengalaman yang sama. “Saya suka mengatakan bahwa menganggur bukanlah masalahnya, yang menjadi masalah sebenarnya adalah menjaga pikiran tetap kuat.”
Greg Roth, 52 tahun, juga merasakan perubahan drastis. “Dalam waktu singkat saya berubah dari merasa sangat diminati menjadi merasa sepenuhnya diabaikan,” ujarnya. “Keterampilan saya tidak berubah, jadi entah pasarnya yang berubah, atau memang perekrutan jauh lebih sedikit.”
Riset menunjukkan kehilangan pekerjaan berkorelasi dengan penurunan kesejahteraan psikologis dan fisik, serta potensi penurunan pendapatan jangka panjang sebesar 5 persen hingga 15 persen dibanding pekerja serupa yang tidak mengalami PHK.
Tren ini menandakan bahwa pengangguran jangka panjang kini menjadi tantangan struktural baru di pasar kerja Amerika Serikat. Lalu, bagaimana dengan negara-negara lainnya, termasuk Indonesia?
