Selat Hormuz Masih Diblokir, Cadangan Minyak Terpaksa Mengalir
- ANTARA/Anadolu
Jakarta, VoxPop - Saat tiga puluh dua negara mulai mengeluarkan cadangan minyak untuk menstabilkan harga minyak mentah yang kian mahal, Iran semakin mempertajam serangan di kawasan Selat Hormuz.
Seluruh anggota Badan Energi Internasional (IEA), yang merupakan gabungan negara pengguna energi terbesar di dunia, sepakat untuk melepas ratusan juta barel minyak mentah dari cadangan strategis mereka.
Namun, langkah itu tidak membuat harga minyak mentah turun, melainkan sebaliknya. Akhir pekan lalu, harga minyak mentah Brent naik hingga US$100 (Rp1,69 juta) per barel.
Sementara Iran meningkatkan serangan di dekat Selat Hormuz, juga terhadap sejumlah kapal angkutan komersial termasuk tanker minyak dan kapal kargo. Pemerintah Iran telah memblokade Selat Hormuz sejak 28 Februari 2026.
Padahal, lewat selat tersebut negara-negara Teluk mengekspor seperlima minyak mentah dan gas alam, terutama ke Asia. Akibatnya, lalu lintas kapal kargo dan tanker terhenti.
Negara-negara produsen minyak utama seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA) juga mengurangi produksi karena penyimpanan domestik mereka sendiri sudah mendekati kapasitas penuh, sehingga meningkatkan kekhawatiran akan stabilitas pasar energi.
Apa itu cadangan minyak strategis?
Adalah simpanan minyak mentah yang dikuasai pemerintah dan digunakan jika pasokan tidak berjalan lancar atau untuk keadaan darurat pasar. Penyimpanan modern pertama dibuat oleh Amerika Serikat (AS) pada 1975, setelah embargo minyak Arab menunjukkan bagaimana rentannya suplai energi global.
Keterkejutan itu melipatgandakan harga minyak dan menyulut kurangnya bahan bakar di negara-negara Barat dan menyingkap kerentanan stabilitas ekonomi jika suplai menurun. Sekarang, puluhan negara, terutama anggota IEA, memiliki simpanan strategis sebagai bagian sistem terkoordinasi untuk menjadi keamanan energi.
Anggota IEA memiliki cadangan lebih dari 1,2 miliar barel, ditambah dengan sekitar 600 juta barel yang dimiliki sektor industri. Diperkirakan, China memiliki penyimpanan darurat terbesar, diikuti AS.
Perusahaan analisa energi dan angkutan, Vortexa, memperkirakan China memiliki simpanan 1,3 miliar barel. Cadangan tersebut diduga mampu menopang perekonomian China sampai tiga atau empat bulan.
Simpanan AS yang berjumlah 415 juta barrel, ditambah 439 juta barel yang dimiliki swasta, setara dengan suplai darurat selama lebih dari 40 hari, sebagaimana dikutip dari situs DW, Jumat, 20 Maret 2026.
