Oracle PHK 30.000 Karyawan, Tapi Malah Buru Ribuan Tenaga Asing

Oracle.
Sumber :
  • Times of India

Jakarta, VoxPop Oracle melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 30.000 karyawan di berbagai negara. Ini sekaligus memicu kontroversi terkait rencana perekrutan tenaga kerja asing melalui program visa H-1B.

img_title Kemenperin Ungkap Penyebab Ancaman PHK 1.500 Pekerja Garmen di Jateng, Bukan karena Serbuan Impor

PHK tersebut dilakukan melalui email pada 31 Maret, dengan karyawan di Amerika Serikat, India, Kanada, Meksiko, dan negara lain menerima pemberitahuan sekitar pukul 06.00 waktu setempat. 

Dalam email yang dikirim “Oracle Leadership”, perusahaan menyampaikan bahwa keputusan tersebut merupakan bagian dari perubahan organisasi.

img_title Angka PHK Meningkat, OJK Pastikan Belum Ada Dampak Sistemik ke Industri Dana Pensiun

“Setelah mempertimbangkan dengan cermat kebutuhan bisnis Oracle saat ini, kami memutuskan untuk menghapus posisi Anda sebagai bagian dari perubahan organisasi yang lebih luas,” demikian isi emailnya, sebagaimana dikutip dari The Economic Times, Jumat, 3 April 2026.

Perusahaan juga menjelaskan ketentuan pesangon bagi karyawan terdampak. “Setelah menandatangani dokumen pemutusan kerja, Anda akan berhak menerima paket pesangon sesuai dengan ketentuan dan syarat dalam rencana pesangon.”

img_title Terkena PHK? Ini 21 Ide Bisnis yang Bisa Jadi Sumber Penghasilan Baru, Bisa Dimulai dengan Modal Minim

Selain itu, akses kerja karyawan juga segera dinonaktifkan. “Akses ke komputer, email, voicemail, dan file Anda akan segera dinonaktifkan, dan Anda tidak akan dapat lagi masuk ke sistem komputer Anda.”

Di saat yang sama, Oracle menghadapi sorotan karena mengajukan ribuan permohonan visa H-1B untuk tenaga kerja asing. Perusahaan tercatat mengajukan sekitar 3.126 petisi untuk tahun fiskal 2025 dan 2026, dengan sekitar 436 petisi sudah diajukan pada tahun berjalan.

Program H-1B sendiri memungkinkan perusahaan di Amerika Serikat mempekerjakan tenaga kerja asing untuk bidang keahlian tertentu ketika tidak tersedia kandidat lokal yang sesuai. Namun, kebijakan ini kembali menuai pro dan kontra di tengah gelombang PHK di sektor teknologi.

Langkah Oracle tersebut memicu kritik di media sosial. Sejumlah pengguna menilai kebijakan perusahaan tidak sensitif terhadap karyawan yang terkena PHK.

“Ini seperti tamparan di wajah kami,” protes salah satu karyawan. 

Pengguna lain menilai perusahaan teknologi kerap melakukan pola serupa. “Lihat semua perusahaan teknologi besar, mereka melakukan PHK besar-besaran lalu mempekerjakan kembali dengan gaji lebih rendah.”

“Perusahaan multinasional tidak loyal terhadap negara dan bangsa Amerika.”

Oracle hingga kini belum memberikan pernyataan resmi terkait kritik tersebut.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut