Ambisi Kevin Warsh sebagai Bos Baru The Fed dan Ujian Berat Utang Pemerintah AS

Kevin Warsh, Calon yang Dinominasikan Donald Trump Menjadi Ketua The Fed
Sumber :
  • CNN Business

Jakarta, VoxPop – Rencana kebijakan moneter baru di bawah kepemimpinan Kevin Warsh menghadapi tantangan besar dari kondisi fiskal Amerika Serikat yang kian memburuk. Lonjakan utang pemerintah federal dinilai berpotensi menghambat ambisi Warsh untuk mengecilkan peran The Federal Reserve dalam pasar keuangan.

img_title Bitcoin Terkoreksi Usai The Fed Pertahankan Suku Bunga, Investor Didorong Tetap Fokus pada Fundamental

Warsh diketahui mendorong agar The Fed mengurangi neraca keuangannya dan kembali ke kebijakan moneter yang lebih “normal” dengan intervensi pasar yang lebih terbatas. Namun, sejumlah ekonom menilai langkah ini bisa berbenturan dengan kebutuhan pembiayaan pemerintah AS yang semakin besar.

Tekanan terlihat dari kenaikan imbal hasil obligasi AS. Yield obligasi Treasury jangka panjang naik signifikan, dengan tenor 30 tahun menembus 5,1 persen, level yang belum bertahan lama sejak sebelum krisis keuangan global 2007–2009. Sementara itu, yield obligasi 2 tahun juga naik lebih dari 0,5 poin persentase hingga melampaui 4 persen. 

img_title Rupiah Makin Anjlok ke Rp 18.109, Potensi Tembus Rp 19.000 di Akhir Juni Imbas Geopolitik Timur Tengah

Kenaikan ini terjadi di tengah kekhawatiran inflasi yang kembali meningkat setelah eskalasi geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah yang mendorong harga energi lebih tinggi.

Sejumlah analis menilai kondisi ini menunjukkan bahwa pasar obligasi AS mulai kehilangan daya tarik jangka panjangnya sebagai aset “aman”, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah.

img_title Rupiah Melemah di Rp 17.718 Imbas Pasar Khawatir Soal Arah Kebijakan Suku Bunga The Fed

Dalam skenario tersebut, rencana Warsh untuk mengecilkan neraca The Fed—yang saat ini masih berada di sekitar US$6,7 triliun atau setara Rp113.900 triliun (kurs Rp17.000 per dolar AS), berpotensi menciptakan tekanan tambahan pada pasar obligasi.

Ekonom Stanford University, Hanno Lustig, menilai pendekatan ini dapat menimbulkan masalah likuiditas di pasar Treasury. Jika The Fed menarik diri terlalu cepat, imbal hasil obligasi bisa naik lebih tinggi dan berdampak pada biaya pinjaman pemerintah, rumah tangga, hingga dunia usaha.

“Jika mereka ingin mengantisipasi hal ini, ketika imbal hasil bereaksi terhadap guncangan fiskal, mereka harus transparan… daripada menganggapnya hanya gangguan pasar,” kata Lustig, sebagaimana dikutip dari Reuters, Minggu, 17 Mei 2026.

Ia juga menambahkan bahwa untuk menjaga stabilitas pasar, bank sentral tetap memiliki peran dalam membeli obligasi saat terjadi tekanan, meski hal itu bertentangan dengan keinginan untuk mengurangi intervensi.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut