Rupiah Menguat ke Rp 18.070 usai Pasar Respons Positif Rating Kredit S&P Indonesia

Ilustrasi uang rupiah
Sumber :
  • vstory

Jakarta, VoxPop – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

img_title PGS BI Destry Beberkan Strategi Hadapi Era Suku Bunga Tinggi di Dunia

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 18.099 pada Selasa, 14 Juli 2026. Posisi rupiah itu menguat 32 poin dari kurs sebelumnya di level 18.131 pada perdagangan Senin, 13 Juli 2026.

Sementara perdagangan di pasar spot pada Rabu, 15 Juli 2026 hingga pukul 09.01 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 18.070 per dolar AS. Posisi itu menguat 21 poin atau 0,12 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 18.091 per dolar AS.

img_title Ekonom Sebut Serangan AS ke Iran Masih Jadi Sentimen Bagi Harga Minyak & Pergerakan Rupiah

Ilustrasi uang rupiah

Photo :
  • ANTARA

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar merespon positif setelah S&P Global Ratings memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5 persen setiap tahunnya, sampai dengan tiga tahun ke depan di tengah kenaikan harga BBM.

img_title Destry Pastikan BI Tak Kendor Jaga Stabilitas, Ini yang Jadi Prioritas

"Lembaga pemeringkat ini mempertahankan peringkat kredit Indonesia dalam kategori layak investasi BBB dengan prospek tetap Stabil," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Rabu, 15 Juli 2026.

S&P menyampaikan bahwa peringkat kredit Indonesia bertahan di BBB berkat prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat. Hal ini terefleksikan dari pengaturan kebijakan ekonomi makro yang bijak, serta beban utang eksternal maupun pemerintah yang relatif lebih ringan dibandingkan dengan negara-negara berperingkat sesama BBB. 

Pertumbuhan ekonomi ini didorong oleh belanja fiskal dan kebijakan hilirisasi, yang tidak lepas dari sentimen terhadap eksekusinya. S&P menilai, kebijakan pemerintah terkait dengan hilirisasi dan penguatan kontrol terhadap sumber daya mineral berpotensi meningkatkan pertumbuhan penerimaan dan penghasilan ekspor. 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia, meski tembus 5,6 persen pada kuartal I-2026, dinilai tetap dibarengi oleh gejolak pasar keuangan selama semester I-2026. Pasar saham paling mengalami tekanan akibat kehilangan lebih dari 30 persen kapitalisasi pasar. Belum lagi, nilai tukar rupiah juga turun sektar 7 persen terhadap dolar AS pada periode yang sama.

Untuk tahun ini, S&P memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1 persen, sejalan dengan peluang moderasi pertumbuhan ekonomi di kuartal-kuartal berikutnya. Hal ini disebabkan oleh berlanjutnya ketidakpastian eksternal dan tingginya tingkat suku bunga dalam negeri.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut