Bank Indonesia Dorong UMKM Berdaya Saing Global, Sambal Mantu Perluas Pasar hingga Mancanegara

UMKM Bali Sambal Mantu
Sumber :
  • Nadiyas Utami Pratiwi

Badung, VoxPop – Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional. Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan sektor ini berkontribusi sebesar 61,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), menyerap 97,1 persen tenaga kerja, serta menyumbang 14,4 persen ekspor nasional.

img_title Namanya Masuk Bursa Calon Gubernur BI Pengganti Perry, Begini Respons Purbaya

Melihat peran strategis tersebut, Bank Indonesia, dalam hal ini Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali, terus memperkuat pengembangan UMKM melalui berbagai program pembinaan yang diselaraskan dengan tugas bank sentral. Program tersebut difokuskan untuk mendukung pengendalian inflasi dari sisi pasokan, mendorong UMKM berorientasi ekspor dan pariwisata, serta memperluas akses pembiayaan guna menjaga stabilitas sistem keuangan.

Salah satu kisah sukses dari program pembinaan tersebut datang dari Sambal Mantu, sebuah usaha kuliner yang kini berhasil berkembang dari bisnis rumahan menjadi produk yang dipasarkan secara nasional hingga menembus pasar internasional.

img_title Bos BCA Ungkap Pesan Khusus untuk Calon Perngganti Perry Warjiyo Jadi Gubernur BI

Berawal dari Sambal untuk Suami

img_title Hasto PDIP: Pengganti Perry Warjiyo Harus Paham Stabilisasi Moneter

Sambal Mantu didirikan oleh Made Ani Setia Wulan pada 2017. Ide bisnis tersebut muncul dari pengalaman pribadinya sebagai seorang ibu sekaligus wanita karier yang setiap hari harus menyiapkan sambal untuk suaminya.

"Sambal Mantu itu berdiri di tahun 2017. Awalnya karena bikin sambal setiap hari itu ribet, sementara suami saya suka sekali makan sambal. Saya berpikir bagaimana kalau bikin dalam jumlah besar saat akhir pekan supaya pagi-pagi tidak lagi repot," ujar Made Ani.

Inspirasi bisnis itu kemudian berkembang ketika ia pulang ke kampung halamannya dan melihat bibinya yang berprofesi sebagai petani cabai harus menjual hasil panen kepada tengkulak dengan harga rendah.

Situasi tersebut mendorong Ani dan suaminya mencari cara agar cabai petani memiliki nilai tambah. Setelah melakukan survei ke sejumlah supermarket di Bali, mereka menemukan bahwa saat itu belum banyak produk sambal kemasan, khususnya sambal embe khas Bali.

Berbekal berbagai percobaan resep hingga menemukan cita rasa yang tepat, Sambal Mantu mulai dipasarkan kepada keluarga dan tetangga sebelum akhirnya mengurus berbagai legalitas usaha.

Nama Sambal Mantu sendiri dipilih bukan tanpa alasan. Menurut Ani, nama tersebut diambil dari kata "menantu" yang memiliki filosofi sebagai sosok dari luar keluarga yang mampu membawa warna baru.

"Saya berharap Sambal Mantu bisa memberi warna di setiap hidangan keluarga, sebagaimana seorang menantu yang membawa warna baru dalam sebuah keluarga," katanya.

Terus Berinovasi hingga Miliki 16 Varian

Seiring berkembangnya usaha, Sambal Mantu tidak hanya mempertahankan produk awalnya. Kini, usaha tersebut telah memiliki 16 varian produk dalam kemasan botol kaca maupun kemasan praktis.

Inovasi terus dilakukan mengikuti kebutuhan konsumen, termasuk menghadirkan kemasan yang lebih ringan bagi wisatawan maupun masyarakat yang ingin membawa sambal ke luar daerah atau luar negeri.

Saat pandemi COVID-19, Sambal Mantu juga menghadirkan varian baru seperti sambal teri, belut, dan petai. Menurut Ani, langkah tersebut sekaligus menjadi bentuk dukungan kepada pelaku UMKM lain yang terdampak pandemi.

"Kami membuat varian teri dan belut karena ingin membantu UMKM di sekitar kami. Ada pelaku usaha yang kesulitan menjual hasil produksinya saat pandemi, jadi kami libatkan sebagai bagian dari produk Sambal Mantu," ujarnya.

Saat ini, kapasitas produksi Sambal Mantu mencapai 100 hingga 120 botol per hari atau sekitar 2.000 botol setiap bulan dengan omzet berkisar Rp80 juta hingga Rp100 juta per bulan.

Dibantu Bank Indonesia Sejak Awal Merintis

Di balik perkembangan usahanya, Ani mengaku Bank Indonesia memiliki peran besar dalam perjalanan Sambal Mantu.

Pendampingan pertama yang diterima bahkan dimulai sejak proses pengurusan legalitas usaha.

"Pertama kali saya bertemu dengan Bank Indonesia, kami dibantu dalam pengurusan sertifikat halal. Waktu itu prosesnya cukup rumit dan biayanya juga mahal. Kami kemudian diikutsertakan dalam program sertifikat halal gratis untuk UMKM. Dari situlah kami mulai dibina oleh Bank Indonesia," ungkapnya.

Setelah lolos kurasi sebagai UMKM binaan BI, Sambal Mantu mendapatkan berbagai bentuk pendampingan yang tidak hanya berfokus pada legalitas, tetapi juga pengembangan bisnis.

Perluasan Pasar hingga Pelatihan Bisnis

Sebagai UMKM binaan Bank Indonesia, Sambal Mantu memperoleh banyak dukungan untuk memperkuat daya saing usahanya.

Beberapa bentuk pendampingan yang diterima antara lain:

  • Pendampingan pengurusan legalitas usaha dan sertifikat halal.
  • Kurasi sebagai UMKM binaan Bank Indonesia.
  • Kesempatan mengikuti pameran lokal dan nasional seperti Festival Ekonomi Syariah (FESyar), Karya Kreatif Indonesia (KKI), dan Bali Jagadhita.
  • Pelatihan digital marketing dan marketplace.
  • Pendampingan pengembangan sumber daya manusia.
  • Pelatihan inovasi produk dan desain kemasan.
  • Kesempatan mengikuti kolaborasi hampers dalam berbagai kegiatan Bank Indonesia.
  • Menjadi narasumber untuk berbagi pengalaman kepada UMKM lainnya.

"Saya sangat mengapresiasi dukungan Bank Indonesia, pemerintah provinsi, dan pemerintah daerah. Yang paling terasa adalah perluasan akses pasar. Kami juga dibantu mengikuti berbagai pelatihan, pameran, hingga diberi kesempatan berbagi pengalaman kepada UMKM lain," kata Ani.

Produk Kini Masuk Bandara hingga Tembus Ekspor

Berkat pembinaan yang diterima, jangkauan pemasaran Sambal Mantu terus berkembang.

Selain tersedia di berbagai toko oleh-oleh dan supermarket di Bali, produknya juga dipasarkan di area keberangkatan domestik dan internasional Bandara I Gusti Ngurah Rai.

Penjualan juga dilakukan melalui berbagai platform digital seperti Shopee, Tokopedia, TikTok Shop, serta media sosial.

Tak hanya memenuhi pasar domestik, Sambal Mantu kini telah berhasil menembus pasar ekspor ke Singapura, Malaysia, dan Australia.

Kesuksesan tersebut turut memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Sambal Mantu mempekerjakan enam karyawan tetap dan memberdayakan warga sekitar saat permintaan meningkat, termasuk melibatkan tetangga dalam proses pengupasan bahan baku.

Ke depan, Ani berharap Bank Indonesia terus memperluas dukungan bagi UMKM agar semakin banyak usaha lokal yang mampu naik kelas dan bersaing di pasar global.

"Harapan kami semoga terus dibantu dalam perluasan akses pasar, kesempatan mengikuti pameran, inovasi produk, hingga pengembangan teknologi agar UMKM semakin berkembang dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat," tuturnya. (LAN)

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo

DPR soal Pengganti Perry Warjiyo: Harus Independen, Tak Ada Pengaruh Politik

Anggota Komisi XI DPR RI, Marwan Jafar angkat bicara soal sosok yang akan menggantikan Perry Warjiyo untuk mengisi kursi Gubernur Bank Indonesia (BI).

img_title
VoxPop.co.id
29 Juli 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut