FIFA Mau Jual Saham Piala Dunia, UEFA Murka: Sepak Bola Bukan Milik Siapa Pun untuk Dijual
- IMAGN IMAGES via Reuters/Mark J Rebilas
UEFA juga mengkritik cara FIFA menjalankan proses konsultasi. Menurut mereka, asosiasi anggota diberi tenggat waktu untuk mendukung proposal tersebut dengan ancaman kehilangan tawaran pembayaran satu kali apabila tidak memberikan persetujuan.
"Hari ini kami mengetahui adanya tenggat waktu dari FIFA kepada asosiasi untuk mendukung proposal mereka atau tawaran pembayaran satu kali itu akan ditarik. Hal itu sudah menjelaskan segalanya mengenai rencana itu."
UEFA menilai pendekatan tersebut justru memperkuat kekhawatiran bahwa proposal itu lebih menguntungkan segelintir pihak dibanding kepentingan sepak bola secara keseluruhan.
"Kita bisa mengembangkan sepak bola dengan cara yang benar. Sudah saatnya memprioritaskan asosiasi, klub, liga, pemain, dan suporter."
Tak hanya UEFA, kritik juga datang dari berbagai kalangan di Inggris. Salah satunya disampaikan oleh Andy Burnham yang merupakan penggemar Everton dan dikenal sebagai tokoh politik Inggris.
Burnham menilai Piala Dunia bukanlah komoditas yang dapat diperdagangkan kepada investor.
"Izinkan saya menyampaikan ini dengan sangat tegas. Sepak bola bukan milik para investor. Sepak bola adalah milik orang-orang yang memenuhi tribun stadion dan yang berdiri di pinggir lapangan setiap pekan, dalam hujan maupun panas."
Menurutnya, nilai Piala Dunia lahir dari sejarah dan jutaan suporter yang telah membesarkan turnamen tersebut selama puluhan tahun.
"Piala Dunia bukanlah sebuah produk. Ini adalah kompetisi terbesar dalam olahraga dunia, dan sejak awal tidak pernah menjadi milik siapa pun untuk dijual. Silakan kemas kesepakatan ini dengan cara apa pun. Begitu Anda menjual sebagian darinya, berarti Anda telah menjual habis nilai-nilainya."
Asosiasi Suporter Sepak Bola Inggris (Football Supporters' Association/FSA) juga melontarkan kritik keras. Mereka menyebut proposal FIFA sebagai titik terendah baru dalam kepemimpinan Gianni Infantino.
"Banyak suporter pulang dari Piala Dunia dengan keyakinan FIFA tidak mungkin lagi melakukan sesuatu yang lebih buruk terhadap turnamen sepak bola terbesar yang kami cintai. Namun, bahkan belum dua pekan sejak peluit akhir final dibunyikan, mereka kembali membuktikan bahwa selalu ada titik terendah baru."
