FIFA Mau Jual Saham Piala Dunia, UEFA Murka: Sepak Bola Bukan Milik Siapa Pun untuk Dijual
- IMAGN IMAGES via Reuters/Mark J Rebilas
VoxPop – Rencana Presiden FIFA Gianni Infantino membentuk perusahaan komersial untuk mengelola Piala Dunia memicu gelombang penolakan dari berbagai pihak. Konfederasi Sepak Bola Eropa (UEFA) menjadi organisasi pertama yang secara terbuka mengecam proposal tersebut dengan nada keras, bahkan menyebut FIFA telah melewati batas yang seharusnya tidak pernah dilanggar dalam tata kelola sepak bola dunia.
Kontroversi bermula setelah laporan media Inggris The Times mengungkap adanya pembahasan mengenai pembentukan perusahaan baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE). Perusahaan ini dirancang untuk mengelola hak-hak komersial berbagai turnamen FIFA, termasuk Piala Dunia dan Piala Dunia Antarklub, dengan melibatkan investasi dari pihak swasta.
Skema tersebut disebut memiliki valuasi awal mencapai 20 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp362 triliun. Dana yang berhasil dihimpun nantinya diklaim akan digunakan untuk meningkatkan program pengembangan sepak bola di seluruh dunia.
Namun, gagasan tersebut langsung memicu reaksi keras dari UEFA. Dalam pernyataan resminya, UEFA menilai rencana itu menyentuh prinsip paling mendasar dalam sepak bola.
Presiden FIFA Gianni Infantino
- REUTERS/Jennifer Gauthier
"UEFA menanggapi hal ini dengan sangat serius. Demikian pula seharusnya setiap asosiasi sepak bola nasional dan setiap pemangku kepentingan: liga, klub, pemain, suporter, pemerintah, serta siapa pun yang peduli terhadap masa depan olahraga ini," tulis pernyataan UEFA.
Konfederasi yang membawahi sepak bola Eropa itu menegaskan bahwa FIFA tidak memiliki hak moral untuk memperlakukan Piala Dunia sebagai aset bisnis yang bisa diperjualbelikan.
"Jiwa dan tata kelola sepak bola bukanlah aset untuk diperdagangkan, terlebih lagi tanpa adanya transparansi mengenai siapa yang memperoleh keuntungan finansial. Tak satu pun dari kita adalah pemilik sepak bola. Sepak bola bukanlah milik FIFA untuk dijual," tulisnya.
Penolakan UEFA kemudian berkembang menjadi gerakan yang lebih luas. Setelah berdiskusi dengan berbagai pemangku kepentingan, organisasi tersebut mengklaim semakin banyak pihak yang menyatakan keberatan terhadap proposal FIFA.
"Setelah berdiskusi dengan banyak pemangku kepentingan di seluruh dunia sepak bola, UEFA mengetahui terdapat penolakan yang signifikan dan terus berkembang terhadap skema FIFA tersebut," tulis UEFA dalam pernyataan lanjutan.
UEFA juga mengkritik cara FIFA menjalankan proses konsultasi. Menurut mereka, asosiasi anggota diberi tenggat waktu untuk mendukung proposal tersebut dengan ancaman kehilangan tawaran pembayaran satu kali apabila tidak memberikan persetujuan.
"Hari ini kami mengetahui adanya tenggat waktu dari FIFA kepada asosiasi untuk mendukung proposal mereka atau tawaran pembayaran satu kali itu akan ditarik. Hal itu sudah menjelaskan segalanya mengenai rencana itu."
UEFA menilai pendekatan tersebut justru memperkuat kekhawatiran bahwa proposal itu lebih menguntungkan segelintir pihak dibanding kepentingan sepak bola secara keseluruhan.
"Kita bisa mengembangkan sepak bola dengan cara yang benar. Sudah saatnya memprioritaskan asosiasi, klub, liga, pemain, dan suporter."
Tak hanya UEFA, kritik juga datang dari berbagai kalangan di Inggris. Salah satunya disampaikan oleh Andy Burnham yang merupakan penggemar Everton dan dikenal sebagai tokoh politik Inggris.
Burnham menilai Piala Dunia bukanlah komoditas yang dapat diperdagangkan kepada investor.
"Izinkan saya menyampaikan ini dengan sangat tegas. Sepak bola bukan milik para investor. Sepak bola adalah milik orang-orang yang memenuhi tribun stadion dan yang berdiri di pinggir lapangan setiap pekan, dalam hujan maupun panas."
Menurutnya, nilai Piala Dunia lahir dari sejarah dan jutaan suporter yang telah membesarkan turnamen tersebut selama puluhan tahun.
"Piala Dunia bukanlah sebuah produk. Ini adalah kompetisi terbesar dalam olahraga dunia, dan sejak awal tidak pernah menjadi milik siapa pun untuk dijual. Silakan kemas kesepakatan ini dengan cara apa pun. Begitu Anda menjual sebagian darinya, berarti Anda telah menjual habis nilai-nilainya."
Asosiasi Suporter Sepak Bola Inggris (Football Supporters' Association/FSA) juga melontarkan kritik keras. Mereka menyebut proposal FIFA sebagai titik terendah baru dalam kepemimpinan Gianni Infantino.
"Banyak suporter pulang dari Piala Dunia dengan keyakinan FIFA tidak mungkin lagi melakukan sesuatu yang lebih buruk terhadap turnamen sepak bola terbesar yang kami cintai. Namun, bahkan belum dua pekan sejak peluit akhir final dibunyikan, mereka kembali membuktikan bahwa selalu ada titik terendah baru."
FSA menegaskan akan menentang setiap langkah yang dinilai mengorbankan masa depan sepak bola demi keuntungan komersial jangka pendek.
Di tengah derasnya kritik, Gianni Infantino akhirnya memberikan penjelasan. Dalam video resmi yang dirilis FIFA dan dikutip beIN Sports, ia membantah anggapan bahwa FIFA akan menjual Piala Dunia.
Infantino menegaskan pembentukan FIFA Forward Enterprise masih sebatas proposal dan bukan keputusan final.
"FIFA Forward Enterprise (FFE) sejatinya adalah sebuah proposal, sebuah tawaran. Itu merupakan bagian dari proses demokratis, sebuah proses konsultasi, dan yang terpenting, itu adalah sebuah peluang, bukan kewajiban."
Menurut Infantino, pembentukan perusahaan baru itu bertujuan memaksimalkan potensi komersial kompetisi FIFA yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Ia menjelaskan seluruh proses tetap harus mendapat persetujuan melalui pemungutan suara dari 211 asosiasi anggota FIFA serta Dewan FIFA.
"Untuk memanfaatkan nilai tersebut dibutuhkan keahlian dan wawasan tambahan yang berbeda dari tugas mengatur dan mengembangkan olahraga ini."
Infantino memastikan perusahaan tersebut nantinya hanya menangani aspek bisnis seperti hak siar, lisensi, sponsor, dan kerja sama komersial. Sementara seluruh keuntungan disebut akan dikembalikan untuk mendukung perkembangan sepak bola di seluruh dunia.
"Para penggemar di seluruh dunia akan memperoleh manfaat yang sangat besar dari potensi perubahan ini karena akan mentransformasi sepak bola di negara mereka masing-masing," ujar Infantino.
Meski demikian, hingga kini perdebatan masih terus berlangsung. Di satu sisi FIFA meyakini investasi swasta dapat memperbesar pendanaan bagi 211 asosiasi anggotanya. Namun di sisi lain, UEFA, organisasi suporter, hingga sejumlah tokoh politik menilai langkah tersebut berisiko mengubah Piala Dunia dari simbol olahraga menjadi sekadar aset bisnis yang diperjualbelikan.
