32 Tahun Menanti, Milanisti Indonesia Bikin Tifo ‘Bentornato Amore’ untuk Sambut AC Milan di SUGBK
- VDN/Ilham Giovani
Di sisi lain, suporter Chelsea juga memberikan warna tersendiri di dalam stadion. Para pendukung The Blues terlihat membawa serta syal yang menjadi salah satu atribut khas dalam kultur suporter sepak bola Inggris.
Laga Chelsea melawan AC Milan menjadi salah satu pertandingan yang paling menyita perhatian dalam agenda pramusim 2026. Pertemuan dua klub besar Eropa itu berlangsung di Jakarta sebagai bagian dari persiapan menuju kompetisi musim 2026/2027.
Chelsea Vs AC Milan
- VDN/Ilham Giovani
Chelsea yang berada di bawah arahan Xabi Alonso menurunkan sejumlah pemain yang menjadi andalan. Cole Palmer, Joao Pedro, dan Danny Welbeck menjadi beberapa nama yang mendapat perhatian dalam pertandingan tersebut.
Sementara dari kubu AC Milan, Ruben Amorim juga menggunakan pertandingan ini untuk mengukur kesiapan timnya. Pelatih asal Portugal tersebut mengombinasikan pengalaman pemain senior dengan sejumlah talenta muda.
Luka Modric menjadi salah satu pemain yang paling mencuri perhatian dari susunan pemain AC Milan. Selain gelandang asal Kroasia itu, Koni De Winter dan Rafael Leao juga masuk dalam komposisi skuad Rossoneri.
Ketika berita ini ditulis, pertandingan Chelsea kontra AC Milan masih berjalan dan kedua tim berada dalam skor yang sama kuat. Kedua kesebelasan terus berusaha menciptakan peluang untuk memecah kebuntuan dalam laga yang turut menjadi hiburan spesial bagi pencinta sepak bola Indonesia.
Bagi Milanisti Indonesia, pertandingan ini memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar laga pramusim. Kembalinya AC Milan ke Indonesia setelah 32 tahun menjadikan suasana di SUGBK terasa istimewa dan diabadikan melalui koreografi 'Bentornato Amore'.
Setelah menunggu sejak 1994, Milanisti Indonesia akhirnya kembali mendapatkan kesempatan menyambut klub kesayangan mereka secara langsung di Tanah Air. Tifo yang memenuhi tribun SUGBK menjadi bukti bahwa kecintaan terhadap Rossoneri tetap bertahan meski waktu telah berlalu selama lebih dari tiga dekade. (Ilham Giovani)
