Black Hornet, Mungil tapi Mematikan
- FLIR
Peluncurannya butuh persiapan 30-120 detik sebelum terbang bak helikopter. Nano-UAV ini bisa dioperasikan dalam beberapa moda terbang, termasuk auto dan manual, terbang pakai peta rute atau pun berdasarkan kendali manual pengguna, lost link, dan terbang pulang otomatis.
Sensor dan sistem navigasi
UAV Black Hornet 3 memiliki dua kamera elektro-optik (EO) dan sebuah fused thermal LED light night imager. Itu memungkinkan tentaranya merekam video langsung dan memotret untuk memperluas jangkauan visualnya.
Untuk kebutuhan navigasinya, Black Hornet dilayani oleh global navigation satellite system (GNSS). Perangkat bisa di-upgrade menjadi navigasi berbasis visi untuk operasi dalam ruangan yang tak bsa mengandalkan GPS.
UAV mini tersebut juga menawarkan tautan data terenkripsi dengan jarak radio 2 kilometer.
Baterai dan performa
UAV Black Hornet.
- Army Technology
Black Hornet dikendalikan melalui ground control station (GCS), yang termasuk di dalamnya sebuah base station, controller, dan display module. Base station dapat mengkomodasi dua UAV Black Hornet 3.
Nano-UAV Black Hornet dilengkapi dengan baterai yang bisa dilepas-ganti, yang menyuplai tenaga ke baling-baling utama dan dua rotor di bagian ekor.
Kemampuan terbang dengan kecepatan maksimum sekitar 21,49 km per jam dan menawarkan kemampuan terbang selama 25 menit dengan jangkauan dua kilometer.
Lantas, apakah TNI Angkatan Darat punya UAV mungil namun mematikan ini? Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa membeberkannya.
"TNI juga sudah punya semua peralatan ini,” kata dia, mengomentari kelengkapan peralatan tempur Angkatan Darat Amerika Serikat itu. Menurutnya, Black Hornet seharga Rp 250 juta per unit telah memperkuat TNI sejak 2021.
