Kisah Aldo Rinaldy: Dari Kontrakan Petak Hingga Punya Ratusan Karyawan

Qwner Lembaga Pendidikan Golden English, Aldo Rinaldy
Sumber :
  • Istimewa

VoxPop – Tidak semua orang lahir dengan keistimewaan. Aldo Rinaldy adalah salah satu contoh nyata bahwa latar belakang bukanlah penghalang untuk sukses, melainkan batu loncatan untuk membangun ketangguhan dan mental juara.

img_title Sistem Baru TOEFL iBT 2026 Jadi Sorotan, Skor Kini Pakai Skala 1-6

Lahir di Bekasi, Aldo merupakan putra dari seorang teknisi alat elektronik dan ibu rumah tangga. Kehidupan sederhana keluarga ini membentuk karakter pekerja keras dalam dirinya sejak dini.

“Born without privilege is a privilege,” ujar Aldo. “Bisa jadi saya tidak bekerja sekeras ini jika lahir dari keluarga kaya yang penuh privilege,” tambahnya. “Lahir di keluarga tanpa privilege memberikan banyak dorongan dan tekad — bangun jadi lebih pagi, kerja lebih lama, belajar lebih giat, mental jadi lebih tangguh. Dan semua itu privilege. Nggak semua orang punya, hahaha,” katanya sambil tertawa.

img_title Bahasa Inggris Bakal Jadi Mata Pelajaran Wajib Murid SD Mulai 2027

Membangun dari Nol

Perjalanan Aldo sebagai entrepreneur dimulai dengan berbagai pekerjaan sederhana. Ia pernah menjadi guru les privat, makelar cetak, penjual es kelapa, nasi kuning, reseller produk, hingga MC panggilan. Ia mencoba berbagai usaha kecil untuk bertahan hidup dan mencari tahu potensi dirinya. Perjalanannya menjadi pengusaha Lembaga Pendidikan dimulai pada tahun 2013. Ia menamakan lembaganya Golden English, nama yang diberikan oleh sang ibu.

img_title Program Doom Tra Kosong Cetak Rekor MURI Pelatihan Bahasa Inggris Terbanyak

“Kami berdiri tahun 2013, diberi nama Golden English. Ibu saya yang berikan nama. Kata beliau, apapun yang terbuat dari emas pasti berharga dan bernilai,” jelas Aldo.

Di tengah keterbatasan ekonomi, ia menyulap kontrakan tempat tinggalnya yang hanya berukuran 3x4 meter menjadi sebuah ruang kelas kecil. Di situlah ia memulai kursus bahasa Inggris pertamanya, dengan modal minim dan hampir tanpa murid.

“Dua tahun pertama adalah masa paling sulit,” kenangnya. “Pernah kefikiran untuk tutup aja, karena difikir-fikir margin-nya tipis bahkan kadang nombok. Mendingan kerja sambil ngajar-ngajar freelance, udah jelas.”

Tantangan berat itu tidak membuatnya menyerah. Dukungan dari sang ibu menjadi penyemangat utamanya. Ibu Aldo mendorongnya untuk terus berjuang dan percaya pada mimpinya. Dari YouTube dan sumber online lainnya, Aldo belajar banyak hal — mulai dari manajemen bisnis, pemasaran, teknik negosiasi, hingga pembuatan proposal kerja sama.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut