Strategi Pengembangan Pesantren sebagai Penggerak Peradaban Dunia Islam
- istimewa
Uniknya sepanjang 2020, tahun pandemi covid-19, Indonesia menjadi eksportir terbesar kelima di antara negara Organisasi Konferensi Islam (OKI) dengan proporsi sebesar 9,3 persen senilai USD 34 miliar atau Rp 483 triliun. Nilai transaksi ini setara dengan 17 persen dari total ekspor bahan makanan halal global yang tembus USD 200 miliar.
Meski demikian, kontribusi industri halal terhadap perekonomian nasional dan volume jumbo ekspornya tidak sebanding dengan produktivitas industri halal. Indonesia menjadi negara konsumtif terbesar industri halal dunia.
State of Global Islamic Economic Report 2019-2021 melaporkan: total konsumsi produk halal Indonesia pada 2019 tembus sebesar USD 220 miliar. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai konsumen produk halal terbesar dari total USD 1,37 triliun belanja produk halal dunia.
Menurut KH. Anis Maftuhin (Gus Anis), Anggota Dewan Syuro DPP PKB, fungsi pesantren selama ini masih condong pada pendidikan dan dakwah; belum kepada fungsi pemberdayaan masyarakat yang tercermin dari produktivitas ekonomi pesantren.
Oleh karenanya, anggota steering committee (SC) Konferensi Internasional Transformasi Pesantren ini mengusulkan agar DPP PKB dapat bekerjasama dengan Kementerian PPN/Bappenas, untuk mengorkestrasi program ekonomi pesantren sebagaimana yang menjadi salah satu isi rekomendasi dari Konferensi ini berupa kemandirian ekonomi pesantren.
Selama ini, kata Gus Anis, program ekonomi pesantren tersebar di lintas Kementerian/Lembaga, belum terintegrasi, sehingga pendanaan dari pemerintah yang ditebar ke seluruh pesantren menjadi kurang produktif dan kurang transparan.
“Contohnya, pada kebutuhan sertifikasi berbagai jenis keahlian kalangan santri. Bappenas selaku otoritas perencanaan nasional menjadi tambatan untuk mengorkestrasinya,” ujar pengasuh Pondok Pesantren Wali, Candirejo, Kab Semarang ini.
