Kaleidoskop 2016

'Dongeng' Leicester City di Tahun Monyet Api

Leicester City juara Liga Inggris musim 2015/2016
Sumber :
  • Reuters / Carl Recine

"Perasaan yang sulit dipercaya, saya tidak pernah tahu sesuatu yang seperti ini. Kami hanya bisa bertahan di Premier League musim lalu, lalu akhir pekan nanti kami akan mengangkat trofi," kata Vardy seperti dilansir Mirror.

img_title Kaleidoskop 2025: Deretan Merek Mobil Baru yang Mengadu Nasib di Indonesia

Pesta Juara yang Sempurna


Meski sudah memastikan gelar, Leicester tetap tampil serius di laga pamungkas di King Power Stadium, Sabtu 7 Mei 2016. Para pemain Everton memberikan "guard of honour" sebagai penghargaan kepada Leicester yang telah dinobatkan sebagai juara. Diiringi dengan yel-yel "Champions, champions," dari fans tuan rumah.

img_title Kaleidoskop Turnamen Esports di Tahun 2025: Juara, Skandal, dan Momen Epik

Leicester akhirnya mampu menang dengan skor 3-1. Hasil yang membuat pesta juara terasa sempurna untuk The Foxes. Terlebih, The Foxes menerima trofi juara Premier League, usai laga kontra Everton.

Para pemain Leicester tampak berkumpul dengan suka cita. Trofi lalu diserahkan kepada kapten tim, Wes Morgan dan manajer, Claudio Ranieri. Morgan dan Ranieri lalu mengangkat trofi bersama-sama.

img_title Tantan Kembali Tunjukkan Tajinya di Persib, Jebol Gawang Leicester City di Singapura

Leicester akhirnya mampu mengakhiri musim dengan raihan 81 poin dari 38 pertandingan. Arsenal akhirnya mampu menyalip Spurs di peringkat 2. The Gunners mengoleksi 71 poin, disusul Spurs (70 poin), dan Manchester City (66 poin).

Leicester City juara Premier League 2015/2016.

Kesuksesan ini menjadi catatan positif untuk manajer Leicester, Claudio Ranieri. Ini merupakan gelar liga domestik pertama yang pernah diraih pria Italia ini. Sebelumnya, Ranieri memang pernah menjuarai liga, namun itu hanya di Serie B bersama Fiorentina, Serie C1 dengan Cagliari, dan Ligue 2 dengan AS Monaco.

Selebihnya, Ranieri lebih sering menjadi runner-up. Manajer asal Italia ini hanya mampu menjadi runner-up liga, baik saat melatih Chelsea, Juventus, AS Roma, dan AS Monaco. Predikat Mr Runner-up pun pernah melekat pada dirinya.

"Saya berusaha untuk tetap kalem. Tapi di dalam tentu saja merasa senang. Darah di tubuh saya seakan tidak percaya," kata Ranieri seperti dilansir Goal.

Pria Italia berusia 64 tahun itu mengatakan tidak pernah berharap bisa merengkuh titel juara, saat ditunjuk sebagai manajer. "Saya orang yang pragmatis. Saya hanya ingin memenangkan satu demi satu pertandingan, dan membantu para pemain meningkat dari pekan ke pekan."

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut