- Reuters / Carl Recine
"Tidak pernah saya berpikir terlalu banyak, tentang sejauh mana kami akan berjalan. Para pemain sudah sangat fantastis. Fokus mereka, determinasi, semangat mereka yang membuat ini jadi mungkin. Setiap pertandingan, mereka berjuang untuk satu sama lain. Saya sangat suka melihat ini pada para pemain saya. Mereka pantas menjadi juara," ujar Ranieri.
Pria yang pernah malang-melintang menangani tim-tim di Spanyol dan Italia itu menyatakan sama sekali tidak terlintas dalam benaknya selama ini bisa menjuarai Premier League. Oleh sebab itu, dia merasa keberhasilan ini amat spesial.
"Premier League, Anda juara, itu amat spesial. Saya memenangkan sejumlah piala di Italia dan Spanyol, namun di sini rasanya fantastis," kata mantan pelatih Valencia itu.
Di musim 2016-17 ini, Ranieri belum berhenti bermimpi. Meski, Leicester tengah terpuruk di Premier League, mereka melaju ke babak 16 besar Liga Champions dan bakal menantang Sevilla.
"Untuk pertandingan di Liga Champions banyak yang bilang melawan Sevilla hasil imbang sudah baik. Mengapa mereka mengatakan ini?" ungkap Ranieri seperti dikutip dari Sky Sports.
"Mereka memenangi tiga gelar (Liga Europa) berturut-turut. Itu tidak mudah bagi kami, tapi tidak apa-apa. Ini adalah mimpi kecil," imbuh pria berusia 65 tahun tersebut.
Titik Balik Juara
Konsistensi merupakan kunci Leicester mampu keluar sebagai yang terbaik di Tahun Monyet Api. Sepanjang musim 2015-16, The Foxes hanya mengalami tiga kekalahan. Dua di antaranya terjadi saat melawan Arsenal, dan sekali saat berhadapan dengan Liverpool.
![]()
Baru-baru ini, Ranieri bercerita mengenai titik balik Leicester mulai percaya diri bisa merebut gelar juara. Justru kekalahan yang membuat manajer asal Italia ini mulai yakin bisa menciptakan keajaiban.
Leicester kalah 1-2 dari Arsenal di Emirates Stadium, 14 Februari 2016. Kekalahan ini membuat The Foxes yang ada di puncak, hanya unggul dua poin dari The Gunners.
Namun, Ranieri menilai timnya semakin percaya diri. Itu karena, Leicester harus bermain dengan 10 orang sejak menit 54, usai Danny Simpson menerima kartu merah.
Leicester tetap tampil ngotot saat tampil dengan 10 pemain. Arsenal baru bisa menciptakan gol kemenangan di masa injury time, tepatnya di menit 95 lewat aksi Danny Welbeck.
