Membaca Perempuan Lewat Kain, Warna dan Keheningan
- Nabila Misha Fashion.
Karya-karya Nabila dinilai menonjolkan keindahan detail dalam rancangan dengan tetap mempertahankan sentuhan Indonesia yang santun. Ini bukan hal yang mudah dilakukan. Banyak desainer muda terjebak dalam pilihan antara tampil kontemporer atau tampil "lokal". Nabila tampaknya memilih untuk tidak memisahkan keduanya. Identitas Indonesia tidak ia letakkan sebagai ornamen, melainkan sebagai fondasi dari cara ia berpikir tentang busana.
Kehadiran Bloom Unlocked di panggung Hari Kartini juga membuka percakapan yang lebih luas. Bahwa warisan budaya tidak harus selalu berbentuk museum atau pertunjukan tradisional. Ia bisa hadir dalam jahitan, dalam pilihan kain, dalam nama koleksi yang dipilih dengan cermat. Perempuan muda seperti Nabila sedang membuktikan bahwa menjaga identitas budaya bisa dilakukan lewat medium yang dekat dengan keseharian generasinya.
Yanti Airlangga, Ketua DWP Kemenko Perekonomian, menyampaikan harapannya usai malam penghargaan tersebut.
"Harapannya semoga akan menjadi banyak lagi anak muda yang kiprah di dalam dunia fashion maupun apa pun yang akan membanggakan nama bangsa," kata Yanti Airlangga.
Bloom Unlocked bukan sekadar koleksi musiman yang akan terlupakan begitu tren berganti. Ia adalah pernyataan. Bahwa perempuan Indonesia sedang tumbuh, bahwa mereka punya cerita yang layak diceritakan, dan bahwa cerita itu bisa disampaikan lewat cara-cara yang indah.
Nabila Misha, di usianya yang 16 tahun, sudah memilih jalannya. Dan koleksi ini adalah salah satu bab pertama yang ia tulis dengan tangan sendiri.
