Terlalu Sering Berobat Belum Tentu Perlu, Ini Hal-hal yang Harus Diketahui Nasabah tentang Overutilisasi Medis
- Freepik
Padahal, dalam jangka panjang, pola pikir tersebut dapat menciptakan efek domino yang berdampak pada seluruh pengguna asuransi. Semakin tinggi jumlah klaim dan tindakan medis yang tidak perlu, semakin besar pula tekanan biaya yang harus ditanggung perusahaan asuransi maupun sistem kesehatan secara keseluruhan.
“Ketika layanan kesehatan digunakan secara berlebihan tanpa indikasi medis yang jelas, dampaknya tidak hanya ke individu, tetapi bisa memengaruhi keberlanjutan sistem secara keseluruhan,” ujar Prof. Hasbullah.
Pada akhirnya, tekanan biaya tersebut dapat diteruskan melalui penyesuaian premi. Dampaknya bukan hanya dirasakan oleh pasien yang sering berobat, tetapi juga masyarakat yang sebenarnya menggunakan layanan kesehatan secara wajar atau bahkan jarang melakukan klaim. Kondisi ini membuat kenaikan biaya kesehatan menjadi dirasakan secara kolektif.
Tren Layanan Kesehatan Kini Semakin Canggih
Menurut Mercer Health Trends, peningkatan utilisasi layanan kesehatan menjadi tren utama di Asia, yang mencerminkan semakin aktifnya masyarakat dalam mengakses layanan medis. Tren ini turut terlihat dari meningkatnya minat terhadap pemeriksaan kesehatan, termasuk medical check-up dan skrining sebagai bagian dari upaya preventif. Di tengah meningkatnya kesadaran tersebut, layanan kesehatan pun mulai bergeser tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan, tetapi juga menjadi bagian dari lifestyle.
Kemudahan layanan cashless, promosi paket kesehatan dari rumah sakit, hingga maraknya konten kesehatan di media sosial turut membentuk perilaku baru dalam mengakses layanan kesehatan. Di satu sisi, kemudahan ini mendorong masyarakat untuk lebih proaktif menjaga kesehatan. Namun di sisi lain, kondisi ini juga dapat memicu perilaku yang kurang tepat, seperti kecenderungan melakukan pemeriksaan secara impulsif tanpa pertimbangan medis yang jelas.
Hal ini sejalan dengan studi oleh Prudential Indonesia bersama Economist Impact yang menunjukkan bahwa hampir 9 dari 10 responden di Indonesia (sekitar 93%) mengaku pernah menunda berobat atau mencari layanan kesehatan, dan hampir setengahnya (44%) bahkan melakukannya secara berulang—menunjukkan adanya kesenjangan antara kemudahan akses dan pemanfaatan layanan yang tepat. Tidak sedikit pula masyarakat yang melakukan self-diagnosis setelah terpapar informasi kesehatan di internet, lalu memutuskan menjalani berbagai tes meski belum tentu dibutuhkan secara medis.
