Terlalu Sering Berobat Belum Tentu Perlu, Ini Hal-hal yang Harus Diketahui Nasabah tentang Overutilisasi Medis
- Freepik
Di Singapura, pemerintah bahkan secara terbuka menyoroti fenomena yang disebut “buffet syndrome”. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika pemegang asuransi dengan perlindungan sangat lengkap cenderung menggunakan layanan kesehatan secara berlebihan karena merasa seluruh biaya ditanggung asuransi.
Dilansir dari Kementerian Kesehatan Singapura, kenaikan klaim asuransi kesehatan swasta disebut menjadi salah satu penyebab utama lonjakan premi asuransi kesehatan. Pada 2026, Mercer Health Trends memperkirakan tren inflasi biaya medis di Indonesia mencapai 17,8 persen. Namun, pemerintah menegaskan angka tersebut bukan murni disebabkan kenaikan harga layanan kesehatan, melainkan juga dipengaruhi peningkatan klaim dan penggunaan layanan medis yang berlebihan.
Berbeda dengan persepsi bahwa semakin banyak tindakan medis berarti semakin baik, Singapura dan Malaysia justru mulai menekankan pentingnya medical necessity atau kebutuhan medis yang benar-benar relevan dengan kondisi pasien. Budaya second opinion juga cukup lazim dilakukan untuk memastikan pasien memperoleh tindakan yang memang diperlukan.
Peran Dokter Sangat Menentukan
Dalam praktiknya, pasien awam sering kesulitan membedakan mana tindakan yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang cenderung berlebihan. Dalam kondisi seperti ini, dokter memegang peran penting untuk memastikan layanan kesehatan tetap diberikan sesuai kebutuhan pasien.
Dalam penjelasannya, Prof. Hasbullah menyebut bahwa karakteristik penggunaan layanan kesehatan dapat berbeda pada setiap skema pembiayaan. Pada sebagian asuransi komersial, sistem pembayaran umumnya disesuaikan dengan jumlah layanan atau tindakan medis yang diberikan kepada peserta.
Dalam sistem tersebut, rumah sakit dapat mengajukan klaim berdasarkan banyaknya layanan yang diberikan. Situasi ini dinilai berpotensi mendorong munculnya tindakan medis yang sebenarnya tidak selalu mendesak.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa dokter tetap memiliki tanggung jawab moral dan etika profesi untuk mengutamakan kepentingan pasien.
“Dokter harus berpegang teguh pada sumpah dokter, yaitu mendahulukan kesehatan pasien daripada kepentingan lainnya” ujarnya.
Inflasi Medis Tidak Hanya Dipicu Harga Obat
Selama ini, kenaikan biaya kesehatan sering dikaitkan dengan mahalnya harga obat, alat kesehatan, atau teknologi medis. Namun, para ahli menilai inflasi medis tidak semata-mata terjadi karena faktor tersebut.
