Sering Ngomong Sendiri? Ternyata Ada Manfaatnya, Ini Penjelasan Ilmiahnya

ilustrasi seorang wanita sedang berbicara
Sumber :
  • Freepik.com//Freepik

VoxPop – Pernah tiba-tiba berbicara sendiri saat sedang bekerja, berbelanja, mencari barang, atau bahkan ketika menghadapi masalah? Jika iya, Anda tidak perlu buru-buru menganggap kebiasaan tersebut aneh.

img_title Antisipasi Risiko dan Lonjakan Polusi, Bicara Udara Luncurkan Knowledge Hub untuk Publik

Berbicara sendiri, terutama dengan suara yang terdengar jelas, ternyata merupakan perilaku yang cukup umum. Kebiasaan ini bahkan dapat memberikan sejumlah manfaat untuk kemampuan berpikir, konsentrasi, motivasi, hingga pengelolaan emosi.

Dalam istilah psikologi, kebiasaan tersebut sering disebut self-talk atau private speech. Banyak orang menggunakannya secara spontan untuk membantu diri sendiri memahami situasi atau menyelesaikan suatu pekerjaan. Berikut ini alasan seseorang ngomong sendiri, melansir dari Healthline

img_title 'One Last Dance', Afifuddin Kalla Sebut Tak Cuma Bicara tapi Bikin Dampak Nyata

1. Membantu lebih fokus

Salah satu manfaat berbicara sendiri adalah membantu menjaga konsentrasi. Misalnya, ketika sedang merakit sesuatu, memperbaiki barang, atau mengerjakan tugas yang rumit, seseorang mungkin secara otomatis mengucapkan langkah-langkah yang harus dilakukan.

img_title Kunjungan ke Qatar, Ketum Kadin Anindya Bakrie Bicara dengan Presiden Trump

Mengatakan sesuatu seperti, "Bagian ini dipasang dulu, setelah itu yang sebelah kanan," dapat membantu otak memusatkan perhatian pada tahapan pekerjaan.

Mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri juga bisa membantu, misalnya, "Kalau bagian ini dipindahkan, apa yang akan terjadi?" Cara sederhana tersebut dapat membuat seseorang lebih fokus mencari solusi.

2. Bisa meningkatkan motivasi

Ketika menghadapi pekerjaan yang sulit, berbicara kepada diri sendiri dengan kalimat positif dapat memberikan dorongan tambahan.

Menariknya, cara menyampaikan kalimat tersebut juga bisa berpengaruh. Alih-alih mengatakan, "Aku pasti bisa," seseorang dapat mencoba menggunakan sudut pandang orang kedua seperti, "Kamu sudah melakukannya dengan baik. Tinggal sedikit lagi."

Cara ini dapat menciptakan jarak emosional sehingga seseorang lebih mudah melihat situasi secara objektif, terutama ketika sedang stres atau merasa ingin menyerah.

3. Membantu memahami emosi

Berbicara sendiri juga dapat menjadi cara untuk memproses perasaan. Ketika sedang marah, kecewa, takut atau bingung, mengutarakan apa yang dirasakan dapat membantu seseorang memahami sumber emosinya.

Misalnya, daripada hanya merasa "kesal", seseorang bisa mengatakan, "Aku sebenarnya kecewa karena merasa tidak dihargai."

Dengan mengucapkannya secara langsung, pikiran yang awalnya terasa berantakan dapat menjadi lebih terstruktur. Perasaan pun terkadang terasa lebih mudah dikendalikan setelah diberi nama dan dijelaskan.

4. Gunakan self-talk yang positif

Meski berbicara sendiri dapat memberikan manfaat, cara seseorang berbicara kepada dirinya sendiri juga penting. Kebiasaan terus-menerus menyalahkan diri sendiri justru dapat memengaruhi kepercayaan diri dan motivasi.

Daripada berkata, "Aku memang tidak becus dan tidak akan pernah berhasil," cobalah mengubahnya menjadi, "Aku sudah berusaha. Memang belum berhasil sekarang, tetapi aku masih bisa mencoba lagi."

Perubahan kecil dalam pilihan kata dapat membantu membangun pola pikir yang lebih sehat.

5. Cobalah bertanya kepada diri sendiri

Self-talk tidak harus selalu berupa pernyataan. Mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri juga dapat membantu menemukan jalan keluar.

Ketika menghadapi masalah, coba tanyakan, "Apa yang sebenarnya membuatku kesulitan?" atau "Apa langkah berikutnya yang bisa dilakukan?"

Pertanyaan semacam ini mendorong otak untuk melihat persoalan dari sudut pandang berbeda. Bahkan, terkadang seseorang sebenarnya sudah mengetahui jawabannya, tetapi baru menyadarinya setelah mengutarakan pertanyaan tersebut.

6. Kalau ingin mengurangi kebiasaan ini, coba menulis jurnal

Berbicara sendiri sebenarnya tidak perlu dihentikan jika tidak mengganggu kehidupan sehari-hari. Namun, jika Anda merasa kurang nyaman melakukannya di tempat umum, menulis jurnal dapat menjadi alternatif.

Tuliskan pikiran, rencana, masalah, atau emosi yang sedang dirasakan. Selain lebih privat, catatan tersebut juga dapat dibaca kembali sehingga Anda bisa melihat pola pikiran atau masalah yang berulang.

Ketika sedang bekerja atau berada di tempat yang membutuhkan ketenangan, cara ini juga dapat membantu menggantikan kebiasaan berbicara dengan suara keras.

Kapan berbicara sendiri perlu diperhatikan?

Sering berbicara sendiri tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan kesehatan mental. Namun, kondisinya berbeda apabila seseorang mendengar suara yang tidak berasal dari dirinya sendiri atau mengalami halusinasi lainnya.

Dalam kondisi tersebut, sebaiknya konsultasikan pengalaman yang dialami kepada tenaga kesehatan profesional agar dapat diketahui penyebabnya.

Bantuan profesional juga bisa dipertimbangkan jika kebiasaan berbicara sendiri membuat seseorang merasa sangat terganggu, sulit mengendalikannya, mengganggu pekerjaan atau hubungan sosial, maupun disertai tekanan emosional lainnya.

Pada dasarnya, ngomong sendiri adalah hal yang lebih normal daripada yang mungkin dibayangkan. Selama tidak mengganggu aktivitas dan tidak disertai gejala lain yang mengkhawatirkan, kebiasaan ini bahkan bisa menjadi alat sederhana untuk membantu fokus, menyelesaikan masalah, memberikan motivasi, dan memahami perasaan sendiri.

Ilustrasi Polusi udara | Photo by Marek Piwnicki on Unsplash

Perda Pengendalian Pencemaran Udara Sudah Tak Memadai, DPRD Jakarta Didorong Prioritaskan Revisi

Dinas Lingkungan Hidup Pemprov DKI Jakarta telah mengajukan Raperda Pengganti Perda No. 2/2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara ke dalam Propemperda Tahun 2027.

img_title
VoxPop.co.id
8 Agustus 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut