LIPI: Kiamat Sudah Dekat

Gedung LIPI
Sumber :
  • LIPI

VoxPop – Heboh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebut kiamat sudah dekat. Kiamat yang dimaksud adalah penurunan drastis 80 persen populasi serangga di seluruh dunia.

img_title Kemenhut Dinilai Mampu Jawab Akar Masalah Konservasi Gajah

Sebagaimana diketahui, saat ini baru 20 persen serangga dari 5,5 juta serangga di dunia yang teridentifikasi. Sisanya 80 persen dari populasi tersebut dan jumlahnya terus berkurang.

Pada 2017, laporan Caspar Hallman dari Universitas Radboud, Belanda, menemukan bahwa populasi serangga terbang di cagar alam Jerman menurun lebih dari 75 persen selama 27 tahun terakhir. Bahkan, Bayo dan Wyckhuys melaporkan penurunan serangga tetap terjadi meskipun di kawasan cagar alam yang masih belum terjamah.

img_title Menhut Dinilai Perkuat Perlindungan Habitat Gajah Lewat Inpres Nomor 8 Tahun 2026

Lantas, bagaimana jika laju penurunan serangga terus terjadi? Tentunya keselamatan bumi akan terancam. Serangga dan tumbuhan adalah penyusun dasar kehidupan. Peran serangga sangat vital dalam ekosistem.

Menurut Djunijanti Peggie, peneliti bidang Entomologi Pusat Penelitian Biologi LIPI, mereka adalah penyerbuk, pengontrol hama, pengelola limbah dan pengurai jasad manusia maupun hewan.

img_title Warga Swiss Tolak Usulan Batasi Populasi Negaranya Jadi 10 Juta Orang

Selain itu, serangga adalah makanan bagi hewan lain. “Jadi bayangkan jika serangga punah akan banyak jasad yang menumpuk dan tidak terurai”, ungkap Djunijanti, seperti dikutip dari situs resmi LIPI, Minggu, 7 Juni 2020.

Ia juga menjelaskan isu penurunan serangga sudah nyata terlihat. “Penyebab utama penurunan populasi serangga adalah alih fungsi lahan, perubahan iklim, penggunaan pestisida dan pupuk sintetis, serta adanya faktor biologis termasuk patogen dan spesies invasif,” paparnya.

Sebagai contoh, kupu-kupu Graphium codrus yang digunakan sebagai foto sampul majalah National Grographic Indonesia pada Mei 2020 bukanlah kupu-kupu endemik Indonesia, tidak langka, dan tidak terancam punah.

“Namun dengan status bukan endemik, bukan langka, dan tidak terancam punah ini pun ternyata jumlah spesimen Graphium codrus di Museum Zoologicum Bogoriense hanya ada 21 spesimen dari empat sub-spesies,” kata Djunijanti.

Bukan itu saja. Ia mengungkapkan masih ada empat subs-pesies di pulau-pulau kecil yang belum ada spesimennya di Museum Zoologicum Bogoriense. Kondisi ini menunjukkan bahwa menemukan kupu-kupu tak langka pun sudah cukup sulit.

Apalagi, lanjut Djunijanti, mendata dan memperoleh spesies yang tergolong endemik dan langka seperti Ornithoptera Croesus yang merupakan spesies endemik di Maluku Utara dan baru dimasukkan dalam daftar spesies dilindungi di Indonesia pada 2018.

Ia pun mengingatkan sudah saatnya setiap individu berkontribusi untuk menekan laju penurunan serangga yang terjun bebas. “Status kiamat serangga saya setuju dan sangat menghawatirkan," jelas Djunijanti.

Pendataan serangga

Pada sisi lain, dirinya menekankan penurunan biomassa hingga 76 persen perlu dicermati secara detail. Artinya, belum terlihat jenis serangga yang terancam sehingga belum dapat melakukan prioritas. Oleh karena itu perlu dilakukan pendataan terlebih dahulu. Saat ini LIPI terus berupaya melakukan upaya pendataan serangga.

"Kami juga mendapatkan dana dari Global Biodiversity Information Facility untuk melakukan pendataan dan digitalisasi spesimen kupu-kupu,” tutur dia. Tak hanya itu, LIPI juga membuka kesempatan kepada publik untuk mengkontribusikan spesies yang telah ditemukan.

“Masyarakat dapat mengirimkan koleksi dalam bentuk foto spesies dengan melengkapi data tempat dan waktu ditemukan. Koleksi tersebut dapat menjadi data observasi, salah satunya dalam InaBIF,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cahyo Rahmadi, menambahkan jika pendataan serangga adalah upaya LIPI untuk melengkapi data kehati.

Data ini akan menjadi salah satu dasar untuk menyatakan status kepunahan. Menurutnya, negara maju sudah memiliki perbandingan data serangga dari tahun ke tahun, sedangkan di Indonesia baru sebatas memiliki koleksi spesimen. "Inilah yang dianggap sebagai kondisi kritis eksistensi serangga,” terang Cahyo.

Ia menyebutkan status hewan yang tidak langka dan belum masuk daftar merah belum tentu aman, karena masih sedikit orang yang memperhatikan serangga. “Diperlukan perubahan perilaku masyarakat untuk menghargai keberadaan makhluk kecil tersebut,” tegasnya, mengingatkan.

Direktur Utama SIG, Indrieffouny Indra.

Semen Langka dan Mahal di Aceh, Dirut SIG Turun Langsung Instruksikan 3 Hal Ini Pastikan Distribusi Berjalan Normal

PT Semen Indonesia Tbk (SIG) mempercepat langkah penanganan ketersediaan pasokan semen di Aceh melalui optimalisasi produksi dan distribusi dalam jaringan perusahaan.

img_title
VoxPop.co.id
5 Agustus 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut