Tas Indonesia Melanglang Buana

Tas kulit Biyantie
Sumber :
  • facebook.com/Biyantiegenuineleather

"Kanvasnya kualitas bagus, dibeli dari luar negeri. Catnya acrylic dibeli di Jerman, jadi tidak akan luntur," katanya saat ditemui di galeri HLB di Jalan Jambi, Surabaya.

img_title Bursa Transfer Arsenal: Here We Go! Bruno Guimaraes Selesaikan Tes Medis, Vinicius Junior Menyusul?

Agung Affandi

Sementara Ira mengatakan bahwa tas kulit produksinya mengusung konsep budaya dan tradisi atau ikon lokal sejumlah daerah di Tanah Air demi mengenalkan pariwisata Indonesia kepada publik lokal maupun internasional. Misalnya, lukisan Tugu Pahlawan atau Suro dan Boyo yang menjadi ikon ibu kota Jawa Timur. 

img_title Jadwal Tayang Final Piala Presiden 2026 dan Perebutan Tempat Ketiga: Persib Bandung Ditantang Persebaya Surabaya

"Jadi juga bisa dibuat promosikan pariwisata Indonesia ke dunia," ujarnya, yang baru saja ikut berpartisipasi dalam ajang Indonesia Fashion Week (IFW) 2017 pada awal Februari lalu.

Tidak sekadar nilai estetika dan promosi saja, Ira pun tak luput memperhatikan bahan tas buatan tangan alias handmade yang digunakan demi menjaga kualitas. Wanita yang baru memulai usaha tas kulit lukis pada Februari 2015 ini menggunakan bahan dari kulit domba, sapi, biawak, buaya hingga ular.   

img_title Tak Hanya Masyarakat RI, Istana Ungkap WN AS hingga Arab Saudi Ikut War Tiket Upacara HUT ke-81

Adapun harga tas kulit lukis generasi penerus maestro seni lukis Indonesia itu pun terbilang mahal. Ira mematok harga mulai Rp2,5 juta hingga puluhan juta. Itu lantaran tas yang dibuatnya juga bisa dinikmati sebagai sebuah lukisan yang bisa dibawa ke mana-mana.

Tas kulit Huraira Leather Bag (HLB)

Tas kain tradisional

Bukan cuma HLB, label tas lokal yang berhasil mencuri perhatian di IFW adalah Warnatasku. Dengan bahan dasar pembuatan tas dari kain tradisional Indonesia, menjadikan produk tas satu ini sangat Indonesia.

Ervina Ahmad adalah sosok dibalik lahirnya tas etnik nan cantik. Alasan Warnatasku tertarik menjadikan kain tradisional sebagai bahan dalam menciptakan setiap tas dengan karakter budaya itu karena kayanya kain yang dimiliki negeri 34 provinsi ini. Selain itu, sebagai caranya untuk mengampanyekan kecintaan terhadap warisan budaya.

"Warnatasku adalah Indonesia. Kami terjemahkan warisan budaya melalui fesyen untuk dapat diterima oleh masyarakat Indonesia di masa sekarang," ujarnya.

Desainer dan pemilik label Warnatasku yang memulai bisnis pada tahun 2011 itu menuturkan, mayoritas tasnya dibuat dari kain tradisional dan minim aksesori. Material tambahan yang biasa digunakan adalah kulit.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut