Tas Indonesia Melanglang Buana

Tas kulit Biyantie
Sumber :
  • facebook.com/Biyantiegenuineleather

Dan kain yang kini banyak digunakan adalah batik dan tenun, menyusul kain tradisional jenis lain. Adapun material kain tradisional didapat langsung dari perajin, sedangkan kulit melalui kerja sama dengan supplier.
 
Dengan memiliki showroom di Jatibening, Bekasi, Ervina mengaku, memproduksi tas secara terbatas. Untuk satu desain, dia hanya memproduksi maksimal tiga buah tas.

img_title Bukan TKD, Purbaya Salurkan Bantuan Pusat Rp 20,5 Triliun Bantu Keuangan Daerah

Dalam sebulan, dia bisa membuat sekitar 100 desain tas baru. Sementara tas yang berhasil dijualnya sekitar 1.000 tiap pekan, dengan mayoritas penjualan diekspor ke Singapura, Australia, Malaysia dan Arab Saudi.  

"Secara persentase, penjualan di luar negeri mencapai 80 persen dari produksi dan 20 persen untuk pasar Indonesia," ucap mantan pramugari ini.

img_title Mensos Ungkap 1,4 Juta Bansos Ditangguhkan karena Terindikasi Judi Online

Adapun tas dengan sentuhan etnik karyanya dibanderol sekitar Rp1 juta hingga Rp25 juta. Dan untuk melebarkan sayap bisnisnya sekaligus lebih mengenalkan produk Indonesia ke kancah dunia, dia berencana membuka butik di sejumlah negara di Eropa, Asia dan kawasan Timur Tengah.

Tas rajut

img_title Purbaya Tambah Penempatan Dana SAL Rp 40 Triliun di Himbara, Senin Depan Ditambah Rp 30 Triliun

Tak hanya tas berbahan kulit dan kain tradisional, tas buatan Indonesia yang memiliki banyak penggemar tidak hanya di dalam negeri tapi juga luar negeri adalah tas rajut dengan label Dowa. Tas asli Yogyakarta ini bisa dianggap sebagai 'kakak' dari tiga tas merek Indonesia sebelumnya.

Kali pertama dibuat pada 11 April 2008 di showroom-nya di Jalan Godean KM 7 Yogyakarta, kata Dowa diambil dari bahasa sansekerta yang memiliki arti doa. "Kami harapkan, produk ini menjadi produk yang sesuai dengan doa kami," kata pemilik Dowa, Delia Murwihartini, beberapa waktu lalu.    

Wanita yang telah memiliki pengalaman bisnis tas rajut sejak tahun 1989 ini menciptakan tas dari benang nylon lokal dengan kualitas tinggi, yang lebih lembut dan warna menarik. Dan untuk memberi kenyamanan bagi pemiliknya, Dowa menambahkan kain halus atau furing di bagian dalam.

Dengan melibatkan para perajin di Pulau Jawa dan kontrol ketat pada kualitas, tas rajut Dowa pun mampu  bersaing dengan tas-tas merek dunia. Tak heran jika karyanya tidak hanya bersinar di Indonesia, tapi juga di Asia, Eropa hingga Amerika. Di Amerika, tas rajut ini dipasarkan dengan nama The Sak, sedangkan di Eropa dipatenkan dengan merek The Read's.    

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut