Ahli: Orang yang Mendengkur, Lebih Besar Kemungkinan Kena Kanker

Ilustrasi mendengkur/mengorok.
Sumber :
  • Freepik/nensurla

VoxPop Lifestyle – Mungkin, mendengkur atau ngorok dengan penyakit kanker jauh jika dikaitkan. Namun, menurut sebuah studi baru, orang yang mendengkur saat tidur mungkin memiliki peningkatan risiko penyakit kanker, menurut sebuah studi baru.

img_title Rambut Beruban Ternyata Bisa Jadi Tanda Tubuh Melawan Kanker? Ini Temuan Studi Terbaru

Obstructive sleep apnea (OSA) atau Apnea tidur obstruktif adalah gangguan tidur yang diidap jutaan orang Amerika setiap tahun; yaitu mendengkur secara keras, mudah terengah-engah dan ngantuk di siang hari. 

Gejala ini disebabkan oleh penyumbatan saluran udara saat mereka tidur, yang mengakibatkan orang-orang berhenti bernapas sepanjang malam. Meskipun menjengkelkan bagi mereka yang menderita gangguan ini, dan bagi mereka yang harus tidur bersama orang yang mendengkur keras, namun para peneliti berpikir itu bisa menjadi indikasi kanker.

img_title Sambut Hari Anak Nasional 2026, Ada Buku Pendamping Psikososial Hadir untuk Menguatkan Anak Pejuang Kanker

Yuk scroll ke bawah!

Orang dengan kelebihan berat badan atau obesitas, menderita diabetes, merokok atau mengonsumsi alkohol dalam jumlah besar adalah yang paling berisiko, menurut penelitian yang dipresentasikan pada konferensi medis di Barcelona pada hari Senin, 5 September 2022. Para ahli dari Swedia mengatakan mendengkur mungkin ada hubungannya dengan kekurangan oksigen yang didapat para penderita di malam hari. 

img_title Jangan Disepelekan, Mendengkur Ternyata Bisa Jadi Pertanda Masalah Kesehatan Serius

Di Amerika Serikat, sekitar 30 juta orang menderita sleep apnea, tetapi hanya 6 juta yang didiagnosis dengan kondisi tersebut, menurut American Medical Association.

Data yang dikumpulkan dari 62.811 pasien. Para pengamat dari Swedia tersebut mencoba mengamati dan mempelajari selama lima tahun sebelum mereka memulai pengobatan untuk gangguan tersebut. Ditemukan bahwa orang yang menderita kasus gangguan yang parah berisiko lebih besar mengalami pembekuan darah di pembuluh darah mereka, yang mana ini adalah kondisi yang berpotensi mengancam jiwa.

Dr. Andreas Palm, peneliti dan konsultan senior di Universitas Uppsala, Swedia, mengatakan bahwa ia dan tim sudah mengetahui bahwa pasien dengan OSA memiliki peningkatan risiko kanker. 

"Tapi belum jelas apakah ini karena OSA itu sendiri atau karena faktor risiko terkait kanker, seperti obesitas, penyakit kardiometabolik dan faktor gaya hidup,” jelasnya dalam siaran pers Senin lalu. "Temuan kami menunjukkan bahwa kekurangan oksigen karena OSA secara independen, berkaitan dengan kanker." lanjutnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut