Wajib Pahami Parents, Dokter Ungkap Beda Gejala DBD dan Tipes

Ilustrasi anak sakit.
Sumber :
  • Pexels/Cottonbro

JAKARTA – Indonesia kerap dihantui dengan penyakit-penyakit tropis saat musim tertentu tiba, termasuk demam berdarah dengue (DBD) dan thypoid (tipes). Kedua penyakit ini sendiri sering sulit dibedakan lantaran gejalanya yang nyaris serupa, namun sebenarnya perbedaannya dapat terasa dengan jelas apabila ditelisik lebih dalam.

img_title Cegah DBD, Enesis Group dan Soffell Geber Kampanye Promotif Asean Dengue Day 2026

Diungkapkan dokter Spesialis Anak RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta, dr. Mulya Rahma Karyanti, Sp.A(K), bahwa penyebab dari dua penyakit ini sebenarnya jauh berbeda. Pada DBD disebabkan oleh virus yang ditularkan melalui nyamuk, sementara tipes disebabkan bakteri salmonella typhi. Meski keduanya menunjukkan gejala serupa seperti demam, namun bisa dibedakan dengan memahami perbedaan ini.

"Biasanya demam pada virus itu demamnya mendadak tinggi. Jadi tadinya anaknya normal, tahu-tahu (suhu) 39. Sama yang khas pada infeksi virus adalah mukanya merah. Sering kan anak mukanya merah merekah, itu biasanya infeksinya virus dan demamnya tinggi mendadak," ujarnya dalam acara Kementerian Kesehatan, baru-baru ini.

img_title Pernah Kena DBD Gak Menjamin Kebal, Dokter Ungkap Faktanya!

Demam berdarah kembali mewabah.

Photo :
  • ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

Menurutnya, gejala-gejala infeksi dengue yang sering terjadi adalah demam mendadak tinggi selama 2 sampai 7 hari, muka memerah, sakit kepala, mual kadang muntah, sakit perut, sakit tulang, kalau orang dewasa sering terjadi ngilu pada tulang sendi, nyeri otot.

img_title Waspada DBD, Tercatat Sebanyak 1.538 Kasus di Jakarta Barat Sepanjang 2026

"Tapi, kalau bakteri yang demam tifoid demamnya biasanya hari pertama 36, hari kedua 37,5, hari ketiga 38. Jadi step ladder, seperti naik tangga ya suhunya karena bakteri," jelasnya.

Gejala lain dari DBD sendiri berupa diare, bintik-bintik merah pada kulit, mimisan, gusi berdarah, muntah darah, BAB berdarah, kemudian tangan dan kaki dingin dan lembab, lemah, hingga tidur terus. Biasanya, gejala tersebut muncul dalam fase kritis di hari ketiga sejak demam berlangsung yang membuat pasien kerap abai hingga berdampak fatal.

"Yang harus diwaspadai adalah fase kritis ini yang sering kecolongan oleh masyarakat. Kadang-kadang setelah hari ketiga suhu turun itu belum tentu tanda baik kalau anaknya tidur terus. Jangan-jangan dia pembuluh darahnya lagi kolaps, jadi dia lemas dan dehidrasi. Seringkali orang tua salah persepsi," terang dokter Karyanti.

Jika berhasil diatasi, maka fase penyembuhan terjadi di hari ketujuh.Apabila tak tertangani, maka fase selanjutnya terjadi pembocoran pembuluh darah di hari keenam dan berisiko pada penyakit lainnya. Paling utama adalah terjadinya syok atau kolaps pembuluh darah.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut