Soal Kasus Bullying di Lingkungan Dokter, Pakar: Jumlahnya Semakin Meningkat

Ilustrasi dokter/rumah sakit.
Sumber :
  • Freepik

JAKARTA – Kasus bullying atau perundungan tidak hanya terjadi di masyarakat umum saja, tapi juga di lingkungan kedokteran. Hal itu terungkap di media sosial mengenai tindak kekerasan yang dilakukan oleh dokter senior kepada dokter peserta pendidikan kedokteran spesialis di salah satu rumah sakit Kemenkes.

img_title Pangkas Birokrasi, Kemendagri Bakal Luncurkan Akta Kelahiran Digital-Kirim Langsung ke Email

Ketua Junior Doctors Network (JDN) Indonesia, Dr Tommy Dharmawan, SpBTKV, PhD, mengatakan, meski bersifat kasuistik, jumlah kasus bullying terus mengalami peningkatan. Scroll untuk informasi selengkapnya.

"Kasus bullying terjadi walaupun kasuistik tetapi jumlahnya semakin meningkat, semakin banyak. Tapi perlu definisi yang jelas dan cerdas untuk menentukan tindakan-tindakan apa yang masuk kategori bullying," ujarnya saat Media Group Interview, yang digelar online, Sabtu 22 Juli 2023. 

img_title Geger Siswa SMP di Pemalang Meninggal Dunia Diduga Jadi Korban Bully, Polisi Lakukan Autopsi

Namun, Tommy mengatakan, perundungan yang terjadi harus ditelusuri apakah benar-benar termasuk tindakan bullying atau tugas akademik, yang notabene memang harus dikerjakan.

img_title Anggota DPR Minta Kemenkes Cermati Aturan Kemasan Rokok Polos agar Selaras dengan Regulasi

"Walaupun dalam keputusan Menteri Kesehatan sudah ada beberapa definisi, tapi saya kira harus jelas, kenapa? Karena dalam institusi pendidikan tentu saja ada beberapa tugas akademik, tugas pelayanan kesehatan," katanya.

"Misalnya memberikan makanan untuk senior, itu saya dengar memang (bullying). Tetapi, ketika disuruh untuk bangun pagi melakukan tugas mencatat pasien jam 5 pagi, itu kan masuknya ke kompetensi akademik, pelayanan kesehatan pada pasien. Jadi memang definisinya harus jelas," sambung dia. 

Menurutnya, kasus perundungan adalah isu yang sangat kompleks. Maka dari itu, JDN akan membuat forum komunikasi agar para korban bullying bisa bersuara. 

"Kami coba advokasi ke sana dulu, lalu kita akan buatkan hotline untuk pengaduan bullying. Kami mencoba berkoordinasi dengan Menteri Kesehatan, walaupun saat ini ranahnya masih antara DIKTI dan Menteri kesehatan," tuturnya. 

Namun menurut Tommy, terkadang ada juga orang yang salah mengartikan bentuk bullying ini. 

Ilustrasi pelecehan seksual pada pria/kekerasan.

Photo :
  • Pexels/RODNAE Productions

"Kita juga harus mencoba jujur. Kadang-kadang ada beberapa hal yang tidak termasuk bullying tetapi di-blowup diviralkan. Saya kira itu harus jelas, apa yang terjadi di masyarakat, diungkap secara jelas terjadinya masalah tersebut," pungkasnya.

Tommy mengungkap, beberapa kasus bullying sudah terjadi di masa lalu. Salah satunya contohnya, korban tidak mendapatkan gaji yang layak sebagai seorang dokter. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut