Murid Tidak Patuh, Hukuman dari Guru Harus Bijak

Guru tampar murid
Sumber :
  • Instagram

VoxPop – Video guru menampar murid-muridnya di dalam kelas viral di media sosial. Guru berinisial LK itu menyatakan, alasan ia melakukan tindak kekerasan karena murid-muridnya bersikap keterlaluan.

img_title Viral Guru di Jember Telanjangi 22 Siswa Usai Kehilangan Uang RP 75 Ribu

"Tolong disadari, saya melakukan itu bukan tanpa tujuan. Saya pun dulu pernah merasakan dan saya dendam karena itu. Tapi saya ingin rasa sakit yang saya berikan sebagai pengingat karena kalian sudah keterlaluan,” ujar LK dalam video seperti VoxPop kutip dari akun Facebook A'an Harahap.

Seperti diketahui, kekerasan di sekolah yang dilakukan guru pada murid ini bukan pertama kalinya. Pantauan VoxPop, dalam enam bulan terakhir sudah ada beberapa tindak kekerasan dari guru ke murid.

img_title Viral Guru SMA di Pamekasan Tampar Siswa di Kelas

Guru SMK di Tangerang saat tendangi muridnya di kelas.

Misalnya, di sekolah dasar di Medan, Sumatera Utara bulan Maret 2018 lalu. Guru berinisial RM menghukum muridnya, MBP, karena tidak membawa pupuk kompos untuk menanam bunga di lingkungan sekolah.

img_title Dipaksa Sujud dan Menggonggong, Begini Kondisi Memilukan Siswa di Surabaya!

Sebelumnya pada November 2017, guru di SMK Gema Bangsa, Cisoka, kabupaten Tangerang melakukan kekerasan dengan menendang murid beberapa kali. Kejadian ini terungkap setelah videonya beredar luas di media sosial.

Jika mengamati perilaku kekerasan dari guru ke murid, seperti pada tiga kasus tersebut, ditemukan motif yang sama, yaitu guru memberi hukuman dengan tujuan mendisiplinkan anak didiknya.

Hukuman harus relevan

Menanggapi maraknya kasus kekerasan di sekolah, psikolog Nessi Purnomo menyoroti soal metode hukuman yang diterapkan guru. "Hukuman pada anak atau murid, boleh. Tapi sifatnya harus membangun dan relevan. Hukuman harus punya nilai membuat anak menjadi pribadi yang lebih baik,” ujar Nessi kepada VoxPop dalam sambungan telepon.

"Misalnya pelanggaran anak berupa membuang sampah sembarangan, ya, misalnya dihukum dengan membersihkan lapangan. Kalau hukuman jilat WC itu apa maksudnya?" kata Nessi menambahkan.

Ilustrasi-Siswa Sekolah Dasar

Psikolog dan pendidik Najelaa Shihab menuliskan dalam bukunya Keluarga Kita Mencintai dengan Lebih Baik, yang paling diingat tentang hukuman adalah apa yang dirasakan, emosi negatif karena merasa dipermalukan dan disalahkan, atau keinginan untuk melakukan perlawanan pada siapa pun yang menjatuhkan hukuman.

"Menumbuhkan disiplin diri pada anak tidak efektif dengan hukuman/punishment," mengutip isi buku itu.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut