Pakar Ingatkan Bahaya Screen Time, Ini Durasi yang Disarankan untuk Anak Main Gadget Bun!

Ilustrasi anak main HP/gadget.
Sumber :
  • Pexels/Ron Lach

JAKARTA – Anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan memerlukan perhatian yang ekstra dari orang tuanya. Terutama dalam periode golden age yakni di usia 0 sampai 5 tahun, di sini otak anak berkembang seiringan dengan fungsi anggota tubuh yang lainnya termasuk kemampuan untuk berbicara, memberikan refleks, hingga sensoriknya.

img_title Usai Viral Libatkan Anak Promosikan Vape, Bigmo Bakal Dipanggil Polda Metro Jaya

Sayangnya, akibat pandemi COVID-19 banyak gaya hidup orangtua yang berubah sehingga berdampak pada pola asuh anak. Salah satunya yang marak terjadi dan kurang disadari tingkat bahayanya adalah screen time atau waktu yang dihabiskan anak untuk menatap layar gadget, termasuk smartphone dan televisi. Yuk, scroll untuk info lengkapnya, moms!

"Saat COVID orangtua WFH. Akhirnya anak ikutan screen time. Screen time ini bahaya banget buat anak-anak. Gangguannya bisa ke refleks dan sensorik," kata Pemerhati Tumbuh Kembang Anak, Tante Mobi, dalam media briefing bersama MS School and Wellbeing, di kawasan Bukit Duri, Jakarta Selatan, Rabu 8 Mei 2024.

img_title 4 Anak yang Diduga Diajak Bigmo Promosikan Vape Hingga Orang Tuanya Diperiksa Polisi

MS School and Wellbeing

Photo :
  • VoxPop.co.id/Rizkya Fajarani Bahar

Screen time yang berlebihan menyebabkan anak-anak jadi bersifat pasif karena mereka hanya melihat sesuatu tanpa memberikan timbal balik. Kondisi ini dapat memperparah kemampuan berbicara mereka yang belum lancar. Selain itu, screen time juga memengaruhi fokus anak dan sensorik mereka.

img_title Gegara Ajak Anak Dibawah Umur Promosikan Liquid Vape, Bigmo Kembali Berurusan dengan Polisi

Tanda-tanda keterlambatan pencapaian perkembangan pada anak ini dapat diklasifikasikan dalam kategori usia. Pada usia 0-2 tahun berupa keterlambatan gerakan asimetris dan fisik terlihat terkulai. Sedangkan pada anak usia pra-sekolah berupa keterlambatan bicara, jalan jinjit, hingga regulasi emosi yang buruk.

Pada hakikatnya, anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan perlu banyak bergerak dan beraktivitas untuk melatih sensorik hingga fokus dan kekuatannya. Mereka juga harus belajar berinteraksi dengan orang lain untuk melatih kemampuan berbicara.

"Saat COVID nggak bisa keluar rumah, sedangkan yang dibutuhkan anak adalah interaksi dengan orang dan lingkungan di mana dia bisa bermain," ungkapnya.

Ketika hal-hal itu tidak terpenuhi, proses pertumbuhan anak jadi terganggu yang mana bisa berdampak juga pada masalah kesehatan mentalnya.

Ahli persoalan tumbuh kembang itu menyarankan orangtua untuk mengurangi penggunaan gadget pada anak. Setidaknya izinkan anak bermain smartphone hanya 3 kali sehari dengan masing-masing durasinya 30 menit.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut