Ketika Sikap Diam Jadi Petaka
- Pixabay/ myphotojourneys
Meski kesal dengan kelakuan mertuanya, namun Dayu mengaku sungkan untuk menegur. Alasannya takut menyakiti hati mertua dan takut di cap sebagai menantu ‘judes’.
“Saya masih menghargai mertua dan enggak ingin ada konflik panjang nantinya. Jadi sekarang yang bisa saya lakukan ya memberikan pengawasan ketat untuk Carlo,” ungkapnya.
Dayu dan Rindi hanyalah salah satu contoh kasus dari sekian banyak yang terjadi akibat tindakan saling mendiamkan yang berujung pada hilangnya keterbukaan antar anggota keluarga.
Dari sekian banyak masalah keluarga yang ada, masalah ;keterbukaan’ adalah yang paling banyak mendominasi masalah keluarga. Seperti keterbukaan terhadap ekonomi, keluarga, pekerjaan, hingga prinsip-prinsip dan pola hidup. Padahal, beberapa anggota keluarga yang tidak dapat melalui masalah-masalah tersebut justru dapat terjebak dalam stres berkepanjangan, hingga berujung pada penyakit fisik.
Orang Indonesia senang bercerita tapi tidak kepada keluarga
Menurut sebuah survei yang dilakukan Sariwangi baru-baru ini menyebutkan bahwa tingkat keterbukaan keluarga di Indonesia cenderung rendah. Dalam penelitian tersebut mengungkapkan, hampir sebagian besar dari responden mengakui hanya mencari topik yang mudah dan aman untuk dibicarakan, sedangkan 2 dari 3 responden menyatakan bahwa kurangnya keterbukaan tersebut bertujuan untuk menghindari konflik.
Psikolog Anak dan Keluarga, Ratih Ibrahim yang mendampingi penelitian tersebut menjelaskan lebih lanjut bahwa umumnya masyarakat Indonesia senang sharing (bercerita) namun menghindari pembicaraan serius.
“8 dari 10 orang Indonesia itu senang ngomong, senang cerita, senang sharing. Jadi yang dimaksud sharing itu adalah cerita, mengungkapkan dirinya bagaimana. Frekuensi sharing-nya setiap hari, bahkan yang paling pendiam sekalipun seminggu kali akan melakukan sharing,” ujarnya kepada VoxPop.co.id beberapa waktu lalu.
Namun sayangnya, 3 dari 5 orang yang suka sharing itu justru menghindari pembicaraan yang sifatnya sulit, apalagi dengan anggota keluarga. Survei yang melibatkan 531 responden dari seluruh Indonesia tersebut terdiri dari usia dewasa muda.25 sampai 30 tahun. Dengan persentase 50 persen pria dan 50 persen wanita. Dari data tersebut juga ditemukan bahwa kaum wanita lebih senang sharing dibandingkan kaum pria.
Fakta menarik lainnya yang ditemukan dalam survei tersebut adalah mengenai kedekatan. Berdasarkan asumsi, jika seseorang senang bercerita dan sharing maka akan timbul kedekatan. Namun pada kenyataannya kedekatan tersebut tidak terjalin akibat menghindari bahasan yang mengandung konflik.
