Ketika Sikap Diam Jadi Petaka

Ilustrasi Keluarga
Sumber :
  • Pixabay/ myphotojourneys

“Berdasarkan asumsi, kalau kamu senang cerita dan dekat, kamu akan bisa cerita dan open up tentang apapun juga. Di sini ternyata enggak, ngakunya dekat, ngomongnya tentang apapun juga tapi cuma dua dari lima, mereka menghindari bahasan yang dapat menimbulkan konflik,” ujarnya.

img_title Tips Memberi Pemahaman Soal Keuangan kepada Anak

Selanjutnya...Jika tak ada keterbukaan dalam keluarga?

img_title Moms, Ini Cara agar Tak Mudah Stres dan Bisa Bonding dengan Anak

Jika tak ada keterbukaan dalam keluarga?

Secara harfiah, keterbukaan adalah suatu sikap dan perasaan untuk selalu bertoleransi serta mengungkapkan kata-kata dengan sejujur-jujurnya sebagai landasan berkomunikasi.

img_title 7 Perilaku Gaslighting Orangtua pada Anak, Banyak yang Gak Sadar

Keterbukaan dalam keluarga menjadi sebuah kebutuhan mendasar. Jika dalam sebuah keluarga berhasil membangun kebiasaan komunikasi yang terbuka, maka banyak persoalan seperti perbedeaan, ketidakpuasan, dendam dan pertengkaran dapat diselesaikan atau dicairkan sejak dini.

“Dampaknya kamu tidak akan mampu membangun relasi yang lebih dalam. Kalau kita tidak membuka diri, maka tidak akan ada koneksi antara satu dengan yang lain. Berarti ada issue (masalah), rasa tidak percaya lah, ketidakcocokan, dan kemudian jadi kurang relate, berarti pondasi relasinya juga akan menjadi tidak cukup kuat. Kalau itu terjadi di keluarga, siapapun akan jadi kesepian di rumah sendiri,” ujarnya.

Lebih lanjut, keluarga yang mengalami keretakan bahkan kegagalan biasanya juga diawali dengan enggan melakukan keterbukaan dan musyawarah antar anggota keluarga.  Masing-masing berpikir, merasakan, berpandangan dengan caranya sendiri-sendiri, tidak mau berdialog dengan anggota keluarga yang lain. Dampaknya akan saling mendiamkan dan tidak peduli yang disebabkan tidak pernah ada usaha untuk pendekatan.

Bagaimana cara memulai keterbukaan dalam keluarga?

Keluarga adalah ‘rumah’ bagi seluruh anggota keluarga untuk pulang dan beristirahat setelah seharian beraktivitas, karenanya penting sekali untuk membangun rasa nyaman satu sama lain. Bagaimana membangunnya?

“Pertama belajar empati, baca reaksi dari sana kita tahu bagaimana cara masuk (berbicara) ke mereka (keluarga). Kemudian, ketika kedekatan telah terbangun relasi maka makin banyak isu (permasalahan) yang bisa dibuka. Dan saat permasalahan yang dihadapi telah terbuka satu sama lain kemudian kita bisa percaya bahwa dia akan baik-baik aja,” ujar Ratih.

Lebih lanjut, Ratih memberikan saran bahwa sebaiknya segala hal tidak bisa langsung dibicarakan tiba-tiba. Semua harus dimulai dari sesuatu yang sederhana.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut