Ketika Sikap Diam Jadi Petaka
- Pixabay/ myphotojourneys
“Sharing the things itu menyehatkan dan lebih kokoh relasinya. Cara mulainya start from the easy things, use your empathy, dan ciptakan suasana hangat. Ini bisa diterapkan dalam pola asuh anak sejak kecil sehingga mereka terbiasa,” ungkapnya.
Lalu bagaimana jika telah terlanjur terjadi konflik? Bagaimana memulai kembali komunikasi?
“Kalau sudah terlanjur ada konflik, siapa yang harus lakukan the first move atau rekonsiliasi? Kita enggak bisa atur orang lain tapi kita bisa atur diri kita. Kita yang netral dahulu dengan cara empati sekaligus mempertimbangkan banyak sudut pandang. Kita bisa memposisikan diri kita di tempatnya,” ujar Ratih.
Kemudian langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah bersikap netral dan lihat lagi reaksinya. Jika memang tetap tidak ada feedback atau reaksi,
“Tapi jika kamu sudah netral dan lawan bicara tetap tidak bisa terbuka. Maka yang harus dilakukan turn down dan you forgive yourself, itu ada di titik nol, and then you forgive that person itu juga di titik nol. Nanti tergantung dia, dia mau masuk proses rekonsiliasi itu atau tidak. Kalau enggak ya urusan dia, yang penting kamu sudah ada di titik nol dan siap untuk maju,” ungkapnya.
