Dokter Tirta Soroti Kasus Yurizal, Tegas Tolak Burnout Jadi Alasan Nakes Komentar Buruk ke Pasien

dokter Tirta
Sumber :
  • YouTube Denny sumargo

VoxPop – Kasus Yurizal yang sempat mengeluhkan harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan kamar rumah sakit kembali menjadi sorotan. Perhatian publik semakin besar setelah unggahan Yurizal di Threads mendapat sejumlah komentar dari dokter dan tenaga kesehatan yang dinilai tidak semestinya.

img_title RS Pusri Palembang Pecat Dokter yang Tuliskan Komentar Nirempati ke Yurizal

Menanggapi polemik tersebut, Dokter Tirta menyampaikan pandangannya melalui siaran langsung. Ia menilai persoalan utama dalam kasus tersebut bukan sekadar perdebatan antara pasien dan tenaga kesehatan, melainkan masalah komunikasi serta sistem pelayanan kesehatan yang perlu dievaluasi.

Dokter Tirta juga secara tegas menolak alasan burnout digunakan untuk membenarkan komentar buruk tenaga kesehatan kepada pasien di media sosial.

img_title Kemenkes: Pasien Yurizal yang Viral Tunggu 8 jam karena HCU RSCM Terbatas

Ia kemudian menjelaskan bahwa pasien pada dasarnya mempunyai hak untuk menyampaikan keluhan ketika merasa pelayanan yang diterimanya tidak sesuai harapan.

Menurutnya, tenaga kesehatan perlu memahami posisi pasien sebagai pihak yang menggunakan layanan kesehatan. Ketika pasien sudah menunggu berjam-jam tanpa mendapatkan kepastian, wajar jika mereka mencari saluran lain untuk menyampaikan keluhan.

img_title Ini Sanksi yang Menanti Oknum Nakes usai Komentar Nirempati ke Yurizal

"Pasien itu adalah customer dan dia tahunya dia sakit, dia membayar BPJS dan dia berobat. Jadi dia antri 8 jam. Dia antri 8 jam, 5 jam, 7 jam mencari kamar,” kata Dokter tirta yang dikutip dari Instagramnya pada Sabtu, 8 Agustus 2026. 

Dokter Tirta menilai, persoalan sebenarnya dapat diminimalkan apabila pasien memperoleh penjelasan yang memadai mengenai kondisi yang membuat mereka harus menunggu.

"Dan tugasnya kita memberi jawaban. That's it. Sesimple itu sebenarnya,” katanya lagi. 

Salah satu hal yang paling disoroti Dokter Tirta adalah alasan burnout yang disebut-sebut berkaitan dengan perilaku tenaga kesehatan di media sosial.

Ia menegaskan bahwa tekanan pekerjaan memang dapat dialami siapa saja, termasuk tenaga kesehatan. Namun, kondisi tersebut menurutnya tidak otomatis dapat menjadi pembenaran untuk melontarkan komentar yang buruk kepada pasien.

"Kalian nggak perlu debat, ngalor-ngidul, melakukan pembenaran. Intinya, apa yang dilakuin sejawat dengan mereply itu udah salah,” ujarnya. 

Ia juga kemudian menyinggung alasan burnout yang digunakan untuk menjelaskan perilaku tersebut.

"Semua orang burn out ya. Tukan becak burn out, kuli bangunan burn out, porter Rinjani burn out,” uajrnya lagi. 

Menurutnya, seseorang tetap memiliki kendali terhadap tindakannya di media sosial. Jika merasa terlalu lelah atau emosional, salah satu pilihan yang dapat dilakukan adalah berhenti sementara menggunakan media sosial.

"Ya, kamu bisa mengontrol jarimu. Kalau kamu stress di thread, ya kamu jangan main thread,” tegas Dokter Tirta. 

Ia bahkan mengaku memilih menonaktifkan Threads karena merasa aktivitas dan pekerjaannya sudah cukup padat. Baginya, keputusan untuk tidak membalas komentar secara impulsif merupakan salah satu cara menjaga komunikasi tetap profesional.

Dokter Tirta juga mengingatkan bahwa komentar di media sosial bersifat publik dan dapat dibaca oleh banyak orang. Karena itu, tenaga kesehatan harus mempertimbangkan dampak dari setiap respons yang diberikan.

"Ketika kamu mereply akun seseorang, otomatis komenmu sudah menjadi publik, dan komen itu akan dikonsumsi oleh banyak orang. Ya, itu sosial media,” terangnya. 

Ia menilai tenaga kesehatan perlu memahami bahwa kemampuan medis tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan berkomunikasi. Apalagi ketika komunikasi dilakukan melalui media sosial yang memiliki karakter berbeda dengan percakapan secara langsung.

Menurut Dokter Tirta, menahan diri untuk tidak membalas komentar yang berpotensi memicu konflik justru menjadi bagian penting dalam menggunakan media sosial secara profesional.

"Menahan jari untuk tidak mereply komen yang tidak seharusnya itu sangatlah penting,” terangnya lagi. 

Alih-alih memperpanjang konflik antara pasien, dokter, dan tenaga kesehatan, Dokter Tirta meminta publik melihat persoalan tersebut dari sisi yang lebih luas.

Ia menilai perdebatan horizontal justru dapat membuat persoalan utama tidak terselesaikan. Menurutnya, yang seharusnya mendapat perhatian adalah sistem pelayanan kesehatan, termasuk persoalan komunikasi dan mekanisme pelayanan yang membuat pasien merasa tidak mendapatkan kepastian. Ia pun merangkum pandangannya dengan menekankan pentingnya komunikasi dalam dunia medis.

"Intinya problem di kedokteran adalah komunikasi. Dan problem di BPJS adalah soal perbaikan sistem,” jelasnya. 

Dokter Tirta juga mempertanyakan mengapa keluhan pasien bisa sampai muncul di media sosial. Baginya, munculnya keluhan seharusnya menjadi bahan evaluasi untuk mencari akar masalah, bukan alasan untuk saling menyerang antara pasien dan tenaga kesehatan.

Komentar Nirempati Pegawai Administrasi RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya

Pegawai RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya Mundur Usai Komentar Nirempati ke Yurizal

RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya mengungkap pegawainya yang menuliskan komentar nirempati kepada Yurizal Tri Chaerawan mengundurkan diri dari pekerjannya.

img_title
VoxPop.co.id
7 Agustus 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut