- REUTERS/DW/TAN
Keinginan menggulingkan rezim dari tampuk kekuasaan makin menguat setelah Golkar kembali memenangkan Pemilu 1997 dan meminta Soeharto untuk kembali menjadi Presiden RI. Tahun yang sama, Indonesia dihantam badai krisis keuangan. Dikutip dari buku "Detik-detik yang Menentukan. Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi," mantan Presiden BJ Habibie menuliskan bagaimana badai krisis moneter itu akhirnya meluas menjadi krisis multidimensional yang berpanjangan di berbagai bidang.
Dolar melambung tak terkira. Dari kisaran Rp2.000-an terus melejit hingga menembus Rp15.000. Akibatnya harga bahan pokok melangit dan menghilang dari pasaran. Sejumlah bank ditutup karena tak mampu mengatasi angka kredit macet dan krisis keuangan. Publik panik, terjadi penarikan tunai besar-besaran karena tak percaya pada Perbankan. Dana likuid bank kolaps.
Dalam situasi ekonomi yang merapuh, pada 11 Maret 1998 Soeharto kembali dilantik menjadi Presiden RI dan BJ Habibie sebagai wakilnya. Tapi yang membuat publik naik darah adalah ketika Soeharto melibatkan kroni-kroninya, bahkan Mbak Tutut anak perempuannya, dalam jajaran menteri di kabinetnya. Penolakan mahasiswa yang awalnya sembunyi-sembunyi mulai tampak.
Sejumlah tokoh yang sebelumnya sudah terkenal vokal semakin berani muncul ke permukaan. Amien Rais adalah salah satunya. Bahkan bisa dibilang Amien Rais adalah inisiator dan lokomotif gerakan melengserkan Soeharto pada 1998. Bersama sejumlah tokoh lain, ia memunculkan dua jargon yang menjadi isu utama gerakan 1998, "Turunkan Harga (Soeharto dan Keluarga)," dan "Tolak KKN (Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme)."
![]()
Publik yang sedang bergolak semakin marah ketika pada bulan Mei 1998 pemerintah menaikkan harga BBM dari Rp700 menjadi Rp1.200 per liter. Kekecewaan yang menumpuk memunculkan keberanian melakukan perlawanan terbuka. Demonstrasi merebak cepat. Satu demi satu mahasiswa di berbagai kampus meneriakkan kekecewaan, kejenuhan, dan kemarahan. Intimidasi muncul, mahasiswa boleh berdemonstrasi, tapi tak boleh keluar kampus.
Perlahan aksi mahasiswa mendapat dukungan luas dari publik. Diam-diam, mereka yang jenuh pada penguasa memberi dukungan moral dan logistik pada mahasiswa. Kritik pada Soeharto dan kroni-kroninya makin deras mengalir. Di Jakarta, seluruh kampus bergerak. Perintah untuk berada di dalam kampus ditaati.
